Senin, 14 Juni 2010

Program Percepatan Belajar Bagi Anak Berbakat Intelektual Ditinjau Dari Sisi Psikologis

Anda akan melihat dalam bab ini pendalaman mengenai Program Percepatan Belajar Bagi Anak Berbakat Intelektual Ditinjau Dari Sisi Psikologis.

A. Pendahuluan
Secara konseptual pengertian acceleration suatu kemajuan yang diperoleh dalam program pengajaran,
pada waktu yang lebih cepat atau usia yang lebih muda daripada yang konvensional.
Beberapa intervensi pengajaran yang kemungkinan tepat dengan definisi akselerasi, sebagai berikut:
1. Early Entrance
Siswa masuk sekolah dalam usia yang lebih mudah dari persyaratan yang telah ditentukan.
2. Grade Skipping
Siswa dipromosikan ke kelas yang lebih tinggi dari penempatan kelas yang normal pada akhir
tahun pelajaran.
3. Continous Progress
Siswa diberi materi pelajaran yang sesuai dengan prestasi yang mampu dicapainya.
4. Self Based Instruction
Siswa diperkenalkan pada materi pelajaran untuk kemajuan dirinya.
5. Subject Matter Acceleration
Siswa ditempatkan dalam kelas yang lebih tinggi, khusus untuk mata pelajaran tertentu.
6. Curriculum Compacting
Siswa melaju pesat dengan kurikulum yang dirancang dengan mengurangi sejumlah aktivitas.
7. Telescoping Curriculum
Siswa menggunakan waktu yang kurang dari biasanya dengan menyelesaikan studi.
8. Mentorship

Siswa diperkenalkan pada seorang mentor berpengalaman dan mahir.

9. Extra Curricular Programme
Siswa mengikuti kegiatan khusus dengan instruksi tingkat mahir.
10. Concurrent Enrollment
Siswa mengambil kursus untuk tingkat tertentu atau yang lebih tinggi.
11. Advanced Placedment
Siswa mengambil kursus di sekolah menengah dan mengambil ujian untuk dapat kredit.
12. Credit By Examination
Siswa memperoleh kredit atas keberhasilannya menyelesaikan tes.
13. Correspondence Courses
Siswa mengambil kursus tingkat SMA atau Perguruan Tinggi secara tertulis, baik melalui Pos atau
Video.
Dalam program percepatan belajar untuk SD, SMP, dan SMA yang dicanangkan oleh pemerintah
pada tahun 2000, akselerasi didefinisikan sebagai salah satu bentuk pelayanan pendidikan yang
diberikan bagi siswa dengan kecerdasan dan kemampuan luar biasa untuk dapat menyelesaikan
pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.

B. Anak Berbakat Intelektual
Definisi anak berbakat untuk Program Percepatan Belajar ini tidak sama dengan definisi anak
berbakat yang telah dikenal selama ini di Indonesia. Definisi yang ada diadopsi dari definisi
keberbakatan United States Of fice of Education (1992) yang berbunyi sebagai berikut.
Anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasikan oleh orangorang yang berkualifikasi profesional
memiliki kemampuan luar biasa dan mampu berprestasi tinggi. Anak-anak ini membutuhkan
program pendidikan yang terdiferensiasi dan atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah
reguler agar dapat merealisasikan kontribusi dirinya ataupun masayrakat.
Definisi anak berbakat dalam Program Percepatan Belajar mempersyaratkan adanya peserta didik
yang telah mencapai prestasi yang memuaskan, sedangkan definisi anak berbakat yang telah dikenal
selama ini di Indonesia hanya mempersyaratkan mampu berprestasi tinggi. Kedua hal ini memiliki
makna yang berbeda. kata prestasi dalam definisi yang pertama telah teraktualisasikan, sedangkan
kata prestasi dalam definisi ayng kedua masih dalam bentuk potensi.
Dengan demikian, sesuai definisi anak berbakat Program Percepatan Belajar, anak berbakat yang
tidak menunjukkan prestasi (underachiever) tidak dapat direkomendasikan oleh psikolog ke dalam
program percepatan belajar inimengacu pada pendekatan uni dimensional dan multi dimensional.
Calon akseleran memiliki skor IQ 140, mereka dapat langsung direkomendasikan oleh psikolog
sebagai calon akseleran tanpa melihat faktor lain, ini dikenal dengan julukan extreme Gifred atau
First Order.
Sebaliknya, ika calon akseleran memiliki kecerdasan umum di bawah skor IQ 140 (tetapi tidak kurang
dari skor IQ 125), mereka masih perlu memiliki persyaratan tambahan, yaitu kreativitas yang
memadai dan pengikatan diri terhadap tugas yang tergolong baik.
C. Kekuatan dan Kelemahan Akselerasi
Kekuatan dalam menyelenggarakan program percepatan belajar antara lain:
1. Meningkatkan efesiensi belajar
2. Meningkatkan efektivitas belajar
3. Merupakan pengakuan atas prestasi yang dimiliki
4. Meningkatkan waktu untuk meniti karier
5. Meningkatkan produktivitas
6. Meningkatkan pilihan eksplorasi dalam pendidikan
7. Mengenalkan siswa dalam kelompok teman baru.
Kelemahan Akselerasi:
1. Bidang Akademis
a. Bahan ajar yang diberikan terlalu jauh bagi siswa
b. Prestasi yang ditampilkan siswa pada waktu proses identifikasi merupakan fenomena sesaat
saja
c. Siswa akselerasi kurang matang secara sosial, fisik, dan juga emosional untuk berada dalam
tingkat kelas yang tinggi

d. Siswa akselerasi terikat pada keputusan karier lebih dini
e. Siswa akselerasi mungkin mengembangkan kedewasaan yang luar biasa tanpa adanya
pengalaman yang dimiliki sebelumnya
f. Pengalaman yang sesuai untuk anak seusianya tidak dialami oleh siswa akselerasi karena tidak
merupakan bagian dari kurikulum sekolah
g. Tuntutan sebagai siswa sebagian besar pada produk akademik keuangan sehingga siswa
akselerasi akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan
divergen.
2. Penyesuaian Sosial
a. Siswa akselerasi didorong untuk berprestasi baik secara akademis.
b. Siswa akselerasi akan kehilangan aktivitas dalam masa-masa hubungan sosial yang penting
pada usianya
c. Kemungkinan, siswa akselerasi akan ditolak oleh kakak kelasnya
d. Siswa sekelas yang lebih tua tidak mungkin setuju memberikan perhatian dan respek pada
teman sekelasnya yang lebih muda usia.
3. Aktivitas Ekstrakurikuler
a. Siswa akselerasi memiliki kesempatan yang kurang untuk berpartisipasi dalam aktivitasaktivitas
yang penting di luar kurikulum yang normal.
b. Partisipasi dalam berbagai kegiatan atletik penting untuk setiap siswa
4. Penyesuaian Emosional
a. Siswa akselerasi merasa frustasi dengan adanya tekanan dan tuntutan yang ada, dan bisa
menjadi siswa underachiever atau drop out.
b. Siswa Akselerasi merasa terisolasi atau bersifat agresif terhadap orang lain.
c. Kurang mampu menyesuaikan diri dalam kariernya karena menempati karier yang tidak tepat
d. Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan kreativitas atau hobi, dan adanya potensi
dikucilkan dari orang lain.(arfinurul.blog.uns.ac.id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar