Rabu, 16 Juni 2010

Mengenal Quantum Learning

Quantum learning merupakan suatu kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman daya ingat, serta belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermakna. Quantum learning mendasarkan pada teori-teori pendidikan (Bobbi de Porter, 1999: 32) seperti Accelaerated Learning (Lozanov), Multiple Inteligences (Gardner), Neuro Lingusitic Programming ( Grinder dan bandler), Experience Learning ( Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan Element of Efective Instruction (Hunter). Quantum learning dapat mempertajam pemahaman daya ingat karena dalam pembelajarannya merangkai dari semua teori pendidikan di atas menjadi paket yang multisensory, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak.

Quantum learning sebagai metode pembelajaran tidak bisa lepas dari quantum teaching dalam pembahasannya. quantum learning mengambil istilah fisika yaitu setiap bagian atau materi memiliki energy . Istilah Quantum learning ini kemudian berkembang menjadi quantum bussines, dan bagi pedoman guru untuk menerapkan quantum learning menggunkan quantum teaching. quantum learning dari proyeksi siswa dan quantum teaching dari proyeksi guru. Dalam pembelajaran antara guru dan siswa saling terkait dan terintegrasi dalam tercapainya tujuan pembelajaran.

Quantum learning memberdayakan semua yang ada dalam pembelajaran, baik secara konteks ( latar pengalaman guru dan siswa) dan konten (isi). Konteks adalah latar pengalaman guru dan siswa. Konteks merupakan keakraban komponen dalam pembelajaran yaitu guru, siswa, dan kurikulum. Menurut Bobi de Porter (2009: 37 ) konteks terbagi menjadi Lingkungan, suasana, landasan, rancangan. Lingkungan adalah komponen pembelajaran itu sendiri yaitu guru, siswa, kurikulum, dan kelas serta sekolah. Lingkungan meliputi lingkungan secara fisik dan lingkungan secara social. Penataan ruang kelas, dan bagaimana komunikasi antar komponen dalam pembelajaran. Suasana dianalogikan sebagai semangat para konduktor dan pemain musiknya dalam hal ini siswa dan guru.

Quantum Learning mencakup aspek-aspek penting tentang cara otak mengatur informasi. Menurut Bobi DePorter dkk (2009:16), “Quantum Learning adalah interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya”. Dengan mengutip rumus Albert Einstein, yakni E=mc2, DePorter memisalkan kekuatan energi ke dalam analogi tubuh manusia yang secara fisik adalah materi. Sehingga tujuan belajar menurut quantum learning adalah meraih sebanyak mungkin cahaya. Quantum learning mengaktifkan semua bagian dalam pembelajaran baik dari sisi konteks maupun kontennya.

Asas utama dalam Quantum Learning adalah “ Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka “ ( Bobi de Porter, 2009: 36 ). Memasuki dunia murid adalah langkah pertama, dengan memasuki dunia mereka kita mendapat hak mengajar yang diberikan oleh siswa untuk kita dapat menuntun, memimpin dan memudahkan perjalanan mereka menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Guru dapat melakukannya dengan cara mengkaitkan yang diajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, social, atletik, music, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan terbentuk, kemudian barulah kita dapat menghantarkan dunia kita ke dunia mereka .

Untuk dapat masuk ke dunia mereka maka dalam QL perlu untuk memahami modalitas belajar siswa. Modalitas belajar siswa yang sudah diketahui adalah visual, auditori, dan kinestetik. Dari setiap modalitas belajar siswa ada cara khusus untuk mengatasinya agar optimal belajarnya. Guru dalam melaksanakan pembelajaran memodifikasi penyampaian materi pembelajaran secara kombinasi sehingga ketiga modalitas belajar siswa dapat terlayani.

Visual, modalitas ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingat ( Bobbi Deporter, 2009 : 123) . Guru menggunakan media tulisan yang berwarna, atau berupa peta, diagram, berdiri pada saat menyajikan materi, dapat bergerak berpindah setiap berganti pokok pembicaraan atau segmen.

Auditorial, modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata diciptakan maupun diingat (Bobbi De Porter, 2009 : 123). Guru dapat menggunakan variasi vocal dalam menyampaikan materi, menggunakan pengulangan, menggunakan music sebagai aba-aba untuk kegiatan rutin .

Kinestetik, modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi diciptakan maupun diingat. Guru dapat menggunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Mencoba berbicara dengan setiap siswa secara pribadi setiap hari. Menggunakan bahasa tubuh jika diperlukan waktu menyampaikan informasi.

Quantum learning mempunyai prisip-prinsip atau kebenaran tetap yang diibaratkan sebagai struktur chord dasar dalam suatu simfoni belajar, prinsip tersebut adalah : Segalanya berbicara, Segalanya bertujuan, Pengalaman sebelum pemberian nama, Akui setiap usaha, Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Dari struktur ini kemudian dikembangkan menjadi suatu model pembelajaran Quantum learning yang memiliki cirri yaitu TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, dan Rayakan).

Tumbuhkan, guru menumbuhkan minat siswa, membuat siswa tertarik atau merasa penasaran tentang materi yang akan kita ajarkan. Pernyataan menciptakan jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Penyertaan akan memanfaatkan pengalaman mereka, mencari tanggapan “Yes” dan mendapatkan komitmen untuk menjelajah.

Alami, guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. Unsur ini member pengalaman kepada siswa, dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Pengalaman memberikan kesempatan mengajar untuk memanfaatkan pengetahuan dan keingintahuan mereka. Informasi pengalaman ini membuat yang abstrak menjadi konkret.

Namai, guru menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus , strategi dan sebuah masukkan. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan adalah saatnya mengajarkan konsep, ketrampilan berpikir, dan strategi belajar.

Demonstrasikan , memberi siswa peluang untuk menterjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka kedalam pembelajaran yang lain, dan kedalam kehidupan mereka.

Ulangi, pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “ Aku tahu bahwa aku tahu ini”. Jadi pengulangan harus dilakukan secara multimodalitas dan multikecerdasan, lebih dalam konteks yang berbeda dengan asalnya ( permainan, pertunjukkan, drama dan sebagainya).

Rayakan, perayaan memberi rasa rampung dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan. Sekali lagi, jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.

Rancangan pembelajaran dengan Quantum Learning merupakan implikasi dari Quantum Learning terhadap pembelajaran. Implikasi terhadap pembelajaran yaitu diterapkannya model Quantum Learning dalam pembelajaran. Model Quantum Learning mempunyai ciri utama yaitu yang dikenal dengan istilah TANDUR ( Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan). Ciri utama QL diintepretasikan dalam suatu tahapan pembelajaran sebagai berikut: Fase 1, Pembuatan kesepakatan dan penataan lingkungan belajar yang terbebas dari hambatan pembelajaran. (suasana menyenangkan, komunikasi terbuka, saling memiliki). Fase 2, Menghadirkan pengalaman umum yang dapat dialami siswa. Fase 3, Memberi nama atau kata kunci (symbol) kepada suatu pengetahuan dari pengalaman umum yang dihadirkan dalam bentuk catatan atau peta pikiran. Fase 4, Melakukan presentasi hasil catatan atau peta pikiran pada fase 3. Fase 5, Mendiskusikan presentasi catatan atau peta pikiran. Fase 6, Memberi pengakuan atau penghargaan hasil presentasi .

Metode atau strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Quantum Learning diantaranya adalah : Peta Pikiran, Pasak Lokasi, Catatan TS (Tulis susun), dan Akrostik (Sugiyanto, 2009), Runsump (Aria Djalil, 2009).

Peta pikiran (Mind mapping) merupakan simplifikasi kerja otak yang dituangkan dalam bentuk gambar dua dimensi berupa idea tau konsep yang saling terhubung. Mind Mapping dikembangkan oleh Tony Buzan, untuk melejitkan potensi otak kiri maupun otak kanan. Mind mapping dapat disisipkan gambar atau dibentuk warna warni yang dapat menimbulkan efek extra ordinary pada otak. Mind Mapping ini lebih condong kepada modalitas belajar siswa Visual dan auditori.

Peta konsep (concept mapping), secara fisik peta konsep hampir sama dengan mind mapping. Peta konsep lebih focus pada produk ilmu pengetahuan yang lebih terstruktur, hirarkis, dan terkait. Peta konsep lebih menekankan pada materi atau konsepnya, sedangkan pada mind mapping menekankan pada jalur atau peta psikologi berpikir sehingga mind mapping lebih bebas dari pada peta konsep. Peta Konsep dikembangkan oleh Gowin dan Novak yang berangkat dari teori belajarnya David Ausubel.

Pasak lokasi, metode ini mendasarkan pada modalitas belajar kinestetik, dimana anak diperbolehkan jalan-jalan, tetapi diarahkan kepada kegiatan pembelajaran. Pada setiap lokasi yang dtentukan terjadi proses belajar, yang dimodifikasi oleh guru. Penyusunan lokasi dan tema (materi) pembelajaran dapat menggunakan peta konsep agar lebih terorganisir informasi yang didapatkan siswa dari kegiatan belajarnya.

Catatan Tulis Susun (TS), merupakan teknik mencatat dalam quantum learning mengembang asosiasi memori dengan memberikan komentar atau luapan emosi dapat berupa gambar atau tulisan pada setiap materi yang dicatat. Teknik membuat catatan TS dengan cara membagi 2 kertas dengan memberikan garis vertical, disebelah kiri garis catatan materi dan disebalah kanan yang ruangnya relative lebih sedikit untuk komentar atau luapan emosi siswa, yang bisa membantu mengingat. Sebagai contoh disebelah kiri mencatat tentang jenis koloid berupa sol, emulsi, aerosol,gels maka disebelah kanan dapat memberikan komentar rambut saya bisa seperti ini disertai dengan gambar potongan rambut “Punk Rock”.

Akrostik merupakan metoda mengoptimalkan memori dengan cara membuat akronim dari suatu materi yang harus diingat atau dihafal. Pembuatan akronim ini diusahakan akrab atau familiar dengan kehidupan siswa. Sebagai contoh untuk menghafal unsure kimia golongan IV dengan Cewek sekSi Genit Senang Playboy (C, Si, Ge, Sn, Pb). Atau yang ingin menghafal taksonomi Bloom yang diperbaiki oleh Anderson yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai, dan menciptakan dengan akronim (NgatMi Rapal NiTa).

Runsump, merupakan bentuk dari quantum reading. Runsump ( Read, Underlining, Note-taking, Sumarrising, Understanding, memorizing, practicing) yang dikembangkan (Aria Djalil ,2009:171) untuk mengoptimalkan mengikat makna dalam membaca dalam meningkatkan prestasi hasil belajar.

Demikian sedikit informasi yang bisa kami sampaikan tentang quantum learning, msih banyak kekurangan dalam penulisan ini sehingga besar harapan kami ada saran dan masukkan untuk menyempurnakan tulisan ini, sekian dan terimakasih.

Surakarta, 20 Mei 2010

Disajikan oleh: Agus Wahidi (www.infodiknas.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar