Rabu, 16 Juni 2010

Dari Mana Kecerdasan Terbentuk

Manusia semenjak dilahirkan telah diberikan kesempurnaan oleh Tuhan YME dengan memiliki kecerdasan. Dengan kecerdasan inilah proses kehidupan dapat berlangsung dengan sempurna. Hanya saja faktor pembawa (Genetik) yang tentunya membedakan tingkat kecerdasan seseorang. Selain itu faktor asumsi makanan (gizi/vitamin) dan lingkungan adalah pembentuk daya kembang kecerdasan. Mengenai proses perkembangannya akan terbentuk dari pola pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa Pembelajaran adalah suatu tahapan perubahan perilaku dengan arah yang positif untuk memecahkan masalah personal, ekonomi, sosial, dan politik yang ditemui oleh setiap manusia. Perilaku diartikan sebagai sikap, ide, nilai, keahlian, dan minat.

Dan arah positif merujuk kepada apa yang dapat meningkatkan pengetahuan manusia. Pembelajaran memungkinkan manusia menjadi entitas yang berfungsi, efektif, dan produktif di dalam hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, siklus kehidupan diciptkan dari hasil pembelajaran. Adapun teori-teori yang membahas tentang belajar adalah sebagai berikut;

1. Behaviourisme

Teori ini dipelopori oleh; J.B. Watson, Pavlop, Skinner. Kemudian Teori belajar dapat dimasukan kedalam kelompok behaviourisme adalah Assosiative Learning.

Pengertian Assosiative Learning

Teori ini dikemukkan oleh Pavlov yang kemudian dipelopori oleh Guthric dan Skinner yang berhaluan behavioris. Pavlov mengadakan eksperimen disebut Condition reflex, karena yang dipelajari gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Reflex dapat ditimbulkan oleh perangsang yang lain yang dahulunya tidak menimbulkan reflex tadi. Teori ini menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan (congruity) stimulus dengan respon, stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respons tadi akhirnya mampu menimbulkan resposns. Drill, praktik, pengulangan dan kejadian-kejadian sesuai teori ini.

Belajar asosiasi dimana urutan-urutan kata-kata tertentu berhubungan sedemikian rupa terhadap obyek-obyek, konsep-konsep, atau situasi sehingga bila kita menyebut yang satu cenderung menyebut yang lain. Misalnya ayah berasosiasi dengan Ibu, kursi dengan meja. Jika digunakan untuk model pembelajaran sekarang masih relevan tentu dengan paradigma baru misalnya menerangkan dengan mode, gambar dan demostrasi.

Menurut Thorndike, bahwa yang menjadi dasar belajar ialah asosiasi antara kesan panca indra (sense impression) dengan impulse untuk bertindak (impulse to action). Bentuk belajar oleh Thorndike disifatkan dengan “Trial and Error learning” atau “learning by selecting and connecting” . Belajar berlangsung 3 hukum (1) law of readiness; (2) law of exercise; (3) law of effect. Law of effect ini menunjukkan kepada makin kuat atau makin lemahnya hubungan sebagai akibat daripada hasil respon yang dilakukan .

Apabila suatu hubungan atau koneksi disebut dan ditandai atau diikuti oleh keadaan yang memuaskan , maka kekuatan hubungan itu akan bertambah, sebaliknya apabila suatu koneksi dibuat dan disertai atau diikuti oleh keadaan yang tidak memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan berkurang. Dalam Law of effect, segala tingkah laku yang mengakibatkan keadaan yang menyenangkan akan diingat. Dan tingkah laku yang menyenangkan mudah untuk dipelajari begitu pula sebaliknya. Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Jadi mengacu kepada teori dari Thorndike, manusia belajar karena adanya kepuasan untuk memperoleh ganjaran dan tingkah laku terbentuk karena hasil trial & error dan law of effect. Praktik belajar seperti cocok digunakan untuk memotivasi siswa dengan pemberian hadiah/ganjaran/reward. Namun penggunaannya hanya saat-saat tertentu dan dalam keadaan yang memungkinkan. Sebab jika dilakukan terus menerus siswa cenderung mau belajar karena akan memperoleh reward, lalu kalau reward ditiadakan siswa apakah masih mau belajar.

2. Cognitivism

Pandangan tentang teori belajar ini meliputi kemampuan atau mengatur kembali dari susunan pengetahuan melalui proses kemanusiaan dan penyimpanan informasi. Piaget membagi 4 tingkat perkembangan kemampuan otak untuk berpikir mengembangkan pengetahuan (cognitif) :

  1. Sensor motor (umur 2 tahun)
  2. Pre Oprasional (umur 2-7 tahun)
  3. Konkret Oprasional (umur 7-11 tahun)
  4. Format Oprasional (umur 11 tahun ke atas)

Skema sensor adalah prilaku terbuka yang bersifat jasmaniah yang tersusun secara sistematis dalam diri bayi/anak yang merespon lingkungan. Sedangkan skema kognitif adalah tatanan tingkah laku untuk memahami dan menyimpulkan lingkungan yang direspon.

Ada dua macam kecakapan kognitif siswa yang amat perlu dikembangkan segera, khususnya oleh guru, yakni :

  • Strategi belajar memahami isi materi pelajaran
  • Strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran.
  • Constructivism

Teori belajar Kontstruksi merupakan teori-teori yang menyatakan bahwa siswa itu sendiri yang harus secara pribadi menemukan dan menerapkan informasi kompleks, mengecek informasi baru dibandingkan dengan aturan lama dan memperbaiki aturan itu apabila tidak sesuai lagi. Teori ini berasal dari buah pikiran Jean Piaget dan Vigotsky dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memakai informasi-informasi baru.

Hakikat dari teori konstruktivism adalah ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Teori ini memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan-aturan tersebut.

Salah satu prinsip paling penting adalah guru tidak dapat hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri., guru hanya membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa dengan memberikan kesimpulan kepada siswa untuk menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar siswa menyadari dan secara sadar menggali strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.

  • Social Learning

Teori Belajar Sosial disebut Teori Observational Learning (Belajar Observasional dengan pengamatan ). Teori ini dipelopori oleh Albert Bandura. Ia memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S - R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitip manusia itu sendiri.

Prinsip Dasar Social learning :

  1. Sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui: peniruan (imitation), penyajian contoh perilaku (modeling).
  2. Dalam hal ini, seorang siswa belajar mengubah perilaku sendiri melalui penyaksian cara orang/ sekelompok orang mereaksi /merespon sebuah stimulus tertentu.
  3. Siswa dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain.
  4. Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).

Pengenalan Metode Quantum Learning

Quantum Learning merupakan metoda pengajaran maupun pelatihan yang sudah lama diterapkan di dalam lembaga-lembaga kursus, ataupun dalam workshop (Seminar) penyajiannya yaitu dengan menggunakan metodologi berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro Linguistic Programming atau NLP (Grinder & Bandler), dsb, menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan dan kompatibel dengan cara bekerja otak yang mampu meningkatkan kemampuan dan kecepatan belajar.

Percepatan belajar (accelerated learning) dikembangkan untuk menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, modalitas belajar serta keterlibatan aktif dari peserta.

Konsep kunci dalam Quantum Learning dari berbagai teori dan strategi belajar yang digunakan antara lain :

  • Teori otak kanan / kiri
  • Pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik)
  • Teori kecerdasan ganda
  • Pendidikan holistic (menyeluruh)
  • Belajar berdasarkan pengalaman
  • Belajar dengan symbol (metaphoric learning)
  • Simulasi / permainan
  • Peta Pikiran (mind mapping)
(webmaster.restuagungonline.com)
Dari uraian ini bisa ditarik garis merah bahwa kecerdasan dapat terbentuk dari proses pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar