Tampilkan postingan dengan label Quantum Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quantum Learning. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juni 2010

Dari Mana Kecerdasan Terbentuk

Manusia semenjak dilahirkan telah diberikan kesempurnaan oleh Tuhan YME dengan memiliki kecerdasan. Dengan kecerdasan inilah proses kehidupan dapat berlangsung dengan sempurna. Hanya saja faktor pembawa (Genetik) yang tentunya membedakan tingkat kecerdasan seseorang. Selain itu faktor asumsi makanan (gizi/vitamin) dan lingkungan adalah pembentuk daya kembang kecerdasan. Mengenai proses perkembangannya akan terbentuk dari pola pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa Pembelajaran adalah suatu tahapan perubahan perilaku dengan arah yang positif untuk memecahkan masalah personal, ekonomi, sosial, dan politik yang ditemui oleh setiap manusia. Perilaku diartikan sebagai sikap, ide, nilai, keahlian, dan minat.

Dan arah positif merujuk kepada apa yang dapat meningkatkan pengetahuan manusia. Pembelajaran memungkinkan manusia menjadi entitas yang berfungsi, efektif, dan produktif di dalam hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, siklus kehidupan diciptkan dari hasil pembelajaran. Adapun teori-teori yang membahas tentang belajar adalah sebagai berikut;

1. Behaviourisme

Teori ini dipelopori oleh; J.B. Watson, Pavlop, Skinner. Kemudian Teori belajar dapat dimasukan kedalam kelompok behaviourisme adalah Assosiative Learning.

Pengertian Assosiative Learning

Teori ini dikemukkan oleh Pavlov yang kemudian dipelopori oleh Guthric dan Skinner yang berhaluan behavioris. Pavlov mengadakan eksperimen disebut Condition reflex, karena yang dipelajari gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Reflex dapat ditimbulkan oleh perangsang yang lain yang dahulunya tidak menimbulkan reflex tadi. Teori ini menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan (congruity) stimulus dengan respon, stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respons tadi akhirnya mampu menimbulkan resposns. Drill, praktik, pengulangan dan kejadian-kejadian sesuai teori ini.

Belajar asosiasi dimana urutan-urutan kata-kata tertentu berhubungan sedemikian rupa terhadap obyek-obyek, konsep-konsep, atau situasi sehingga bila kita menyebut yang satu cenderung menyebut yang lain. Misalnya ayah berasosiasi dengan Ibu, kursi dengan meja. Jika digunakan untuk model pembelajaran sekarang masih relevan tentu dengan paradigma baru misalnya menerangkan dengan mode, gambar dan demostrasi.

Menurut Thorndike, bahwa yang menjadi dasar belajar ialah asosiasi antara kesan panca indra (sense impression) dengan impulse untuk bertindak (impulse to action). Bentuk belajar oleh Thorndike disifatkan dengan “Trial and Error learning” atau “learning by selecting and connecting” . Belajar berlangsung 3 hukum (1) law of readiness; (2) law of exercise; (3) law of effect. Law of effect ini menunjukkan kepada makin kuat atau makin lemahnya hubungan sebagai akibat daripada hasil respon yang dilakukan .

Apabila suatu hubungan atau koneksi disebut dan ditandai atau diikuti oleh keadaan yang memuaskan , maka kekuatan hubungan itu akan bertambah, sebaliknya apabila suatu koneksi dibuat dan disertai atau diikuti oleh keadaan yang tidak memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan berkurang. Dalam Law of effect, segala tingkah laku yang mengakibatkan keadaan yang menyenangkan akan diingat. Dan tingkah laku yang menyenangkan mudah untuk dipelajari begitu pula sebaliknya. Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Jadi mengacu kepada teori dari Thorndike, manusia belajar karena adanya kepuasan untuk memperoleh ganjaran dan tingkah laku terbentuk karena hasil trial & error dan law of effect. Praktik belajar seperti cocok digunakan untuk memotivasi siswa dengan pemberian hadiah/ganjaran/reward. Namun penggunaannya hanya saat-saat tertentu dan dalam keadaan yang memungkinkan. Sebab jika dilakukan terus menerus siswa cenderung mau belajar karena akan memperoleh reward, lalu kalau reward ditiadakan siswa apakah masih mau belajar.

2. Cognitivism

Pandangan tentang teori belajar ini meliputi kemampuan atau mengatur kembali dari susunan pengetahuan melalui proses kemanusiaan dan penyimpanan informasi. Piaget membagi 4 tingkat perkembangan kemampuan otak untuk berpikir mengembangkan pengetahuan (cognitif) :

  1. Sensor motor (umur 2 tahun)
  2. Pre Oprasional (umur 2-7 tahun)
  3. Konkret Oprasional (umur 7-11 tahun)
  4. Format Oprasional (umur 11 tahun ke atas)

Skema sensor adalah prilaku terbuka yang bersifat jasmaniah yang tersusun secara sistematis dalam diri bayi/anak yang merespon lingkungan. Sedangkan skema kognitif adalah tatanan tingkah laku untuk memahami dan menyimpulkan lingkungan yang direspon.

Ada dua macam kecakapan kognitif siswa yang amat perlu dikembangkan segera, khususnya oleh guru, yakni :

  • Strategi belajar memahami isi materi pelajaran
  • Strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran.
  • Constructivism

Teori belajar Kontstruksi merupakan teori-teori yang menyatakan bahwa siswa itu sendiri yang harus secara pribadi menemukan dan menerapkan informasi kompleks, mengecek informasi baru dibandingkan dengan aturan lama dan memperbaiki aturan itu apabila tidak sesuai lagi. Teori ini berasal dari buah pikiran Jean Piaget dan Vigotsky dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memakai informasi-informasi baru.

Hakikat dari teori konstruktivism adalah ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Teori ini memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan-aturan tersebut.

Salah satu prinsip paling penting adalah guru tidak dapat hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri., guru hanya membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa dengan memberikan kesimpulan kepada siswa untuk menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar siswa menyadari dan secara sadar menggali strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.

  • Social Learning

Teori Belajar Sosial disebut Teori Observational Learning (Belajar Observasional dengan pengamatan ). Teori ini dipelopori oleh Albert Bandura. Ia memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S - R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitip manusia itu sendiri.

Prinsip Dasar Social learning :

  1. Sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui: peniruan (imitation), penyajian contoh perilaku (modeling).
  2. Dalam hal ini, seorang siswa belajar mengubah perilaku sendiri melalui penyaksian cara orang/ sekelompok orang mereaksi /merespon sebuah stimulus tertentu.
  3. Siswa dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain.
  4. Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).

Pengenalan Metode Quantum Learning

Quantum Learning merupakan metoda pengajaran maupun pelatihan yang sudah lama diterapkan di dalam lembaga-lembaga kursus, ataupun dalam workshop (Seminar) penyajiannya yaitu dengan menggunakan metodologi berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro Linguistic Programming atau NLP (Grinder & Bandler), dsb, menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan dan kompatibel dengan cara bekerja otak yang mampu meningkatkan kemampuan dan kecepatan belajar.

Percepatan belajar (accelerated learning) dikembangkan untuk menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, modalitas belajar serta keterlibatan aktif dari peserta.

Konsep kunci dalam Quantum Learning dari berbagai teori dan strategi belajar yang digunakan antara lain :

  • Teori otak kanan / kiri
  • Pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik)
  • Teori kecerdasan ganda
  • Pendidikan holistic (menyeluruh)
  • Belajar berdasarkan pengalaman
  • Belajar dengan symbol (metaphoric learning)
  • Simulasi / permainan
  • Peta Pikiran (mind mapping)
(webmaster.restuagungonline.com)
Dari uraian ini bisa ditarik garis merah bahwa kecerdasan dapat terbentuk dari proses pembelajaran.

Inilah Prinsip Utama Quantum Learning

Prinsip dapat berarti (1) aturan aksi atau perbuatan yang diterima atau dikenal dan (2) sebuah hukum, aksioma, atau doktrin fundamental. Pembelajaran kuantum juga dibangun di atas aturan aksi, hukum, aksioma, dan atau doktrin fundamental mengenai dengan pembelajaran dan pembelajar. Setidak-tidaknya ada tiga macam prinsip utama yang membangun sosok pembelajaran kuantum.

Ketiga prinsip utama yang dimaksud sebagai berikut.

1. Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar). Setiap bentuk interaksi dengan pembelajar, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode pembelajaran harus dibangun di atas prinsip utama tersebut. Prinsip tersebut menuntut pengajar untuk memasuki dunia pembelajar sebagai langkah pertama pembelajaran selain juga mengharuskan pengajar untuk membangun jembatan otentik memasuki kehidupan pembelajar. Untuk itu, pengajar dapat memanfaatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki pembelajar sebagai titik tolaknya. Dengan jalan ini pengajar akan mudah membelajarkan pembelajar baik dalam bentuk memimpin, mendampingi, dan memudahkan pembelajar menuju kesadaran dan ilmu yang lebih luas. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan, maka baik pembelajar maupun pembelajar akan memperoleh pemahaman baru. Di samping berarti dunia pembelajar diperluas, hal ini juga berarti dunia pengajar diperluas. Di sinilah Dunia Kita menjadi dunia bersama pengajar dan pembelajar. Inilah dinamika pembelajaran manusia selaku pembelajar.

2. Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orkestra simfoni. Selain memiliki lagu atau partitur, pemainan simfoni ini memiliki struktur dasar chord. Struktur dasar chord ini dapat disebut prinsip-prinsip dasar pembelajaran kuantum.

Prinsip-prinsip dasar ini ada lima macam berikut ini:

  • Ketahuilah bahwa Segalanya Berbicara

Dalam pembelajaran kuantum, segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang sampai sikap guru, mulai kertas yang dibagikan oleh pengajar sampai dengan rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.

  • Ketahuilah bahwa Segalanya Betujuan

Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energi menjadi cahaya mempunyai tujuan. Tidak ada kejadian yang tidak bertujuan. Baik pembelajar maupun pengajar harus menyadari bahwa kejadian yang dibuatnya selalu bertujuan.

  • Sadarilah bahwa Pengalaman Mendahului Penamaan

Proses pembelajaran paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Dikatakan demikian karena otak manusia berkembang pesat dengan adanya stimulan yang kompleks, yang selanjutnya akan menggerakkan rasa ingin tahu.

  • Akuilah Setiap Usaha yang Dilakukan dalam Pembelajaran

Pembelajaran atau belajar selalu mengandung risiko besar. Dikatakan demikian karena pembelajaran berarti melangkah keluar dari kenyamanan dan kemapanan di samping berarti membongkar pengetahuan sebelumnya. Pada waktu pembelajar melakukan langkah keluar ini, mereka patut memperoleh pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Bahkan sekalipun mereka berbuat kesalahan, perlu diberi pengakuan atas usaha yang mereka lakukan.

  • Sadarilah bahwa Sesuatu yang Layak Dipelajari Layak Pula Dirayakan

Segala sesuatu yang layak dipelajari oleh pembelajar sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya. Perayaaan atas apa yang telah dipelajari dapat memberikan balikan mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan pembelajaran.

3. Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Dengan kata lain, pembelajaran perlu diartikan sebagai pembentukan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandang sebagai jantung fondasi pembelajaran kuantum.

Ada delapan prinsip keunggulan – yang juga disebut delapan kunci keunggulan – yang diyakini dalam pembelajaran kuantum. Delapan kunci keunggulan itu sebagai berikut.
• Terapkanlah Hidup dalam Integritas
Dalam pembelajaran, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang lahir ketika nilai-nilai dan perilaku kita menyatu. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar yang pada gilirannya mencapai tujuan belajar. Dengan kata lain, integritas dapat membuka pintu jalan menuju prestasi puncak.
• Akuilah Kegagalan Dapat Membawa Kesuksesan
Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan dapat memberikan informasi kepada kita yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut sehingga kita dapat berhasil. Kegagalan janganlah membuat cemas terus menerus dan diberi hukuman karena kegagalan merupakan tanda bahwa seseorang telah belajar.
• Berbicaralah dengan Niat Baik
Dalam pembelajaran, perlu dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung. Niat baik berbicara dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pembelajar.
• Tegaskanlah Komitmen
Dalam pembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan. Untuk itu, mereka perlu melakukan apa saja untuk menyelesaikan pekerjaan. Di sinilah perlu dikembangkan slogan: Saya harus menyelesaikan pekerjaan yang memang harus saya selesaikan, bukan yang hanya saya senangi.
• Jadilah Pemilik
Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu. Karena itu, pengajar dan pembelajar harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugas mereka. Mereka hendaklah menjadi manusia yang dapat diandalkan, seseorang yang bertanggung jawab.
• Tetaplah Lentur
Dalam pembelajaran, pertahankan kemampuan untuk mengubah yang sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar, lebih-lebih pengajar, harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan. Misalnya, di kelas guru dapat saja mengubah rencana pembelajaran bilamana diperlukan demi keberhasilan siswa-siswanya; jangan mati-matian mempertahankan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
• Pertahankanlah Keseimbangan
Dalam pembelajaran, pertahankan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal. Tetap dalam keseimbangan merupakan proses berjalan yang membutuhkan penyesuaian terus-menerus sehingga diperlukan sikap dan tindakan cermat dari pembelajar dan pengajar. (sugiartoagribisnis.wordpress.com)

Mendalami Quantum Learning

Kupas pemahaman mengenai Quantum Learning yang akan membuat pembelajaran di kelas semakin menyenangkan denga hasil maksimal.

multiple_inteligency Quantum learning merupakan penerapan cara belajar baru yang lebih melihat kemampuan siswa berdasarkan kelebihan atau kecerdasan yang dimilikinya. Quantum berarti percepatan atau lompatan. Kerangka pemikiran yang dibangun oleh ciri pembelajaran quantum learning ini adalah adanya sikap positif yang dibangun dalam diri siswa, dengan meyakinkan siswa bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan pikiran yang tidak terbatas. Ada yang beranggapan bahwa otak kita sama dengan otak Einstein. Dengan mempercayai kekuatan pikiran, kita dapat mengetahui dalil tentang otak, bahwa otak harus dilatih dan tidak masalah jika harus digunakan secara terus menerus. Kita hanya tinggal memilih saja, ingin memanfaatkan organ yang paling penting dalam hidup ini atau mengabaikannya sehingga menjadi tidak berguna.

Dalam quantum learning guru sebagai pengajar tidak hanya memberikan bahan ajar, tetapi juga memberikan motivasi kepada siswanya, sehingga siswa merasa bersemangat dan timbul kepercayaan dirinya untuk belajar lebih giat dan dapat melakukan hal-hal positif sesuai dengan tipe kecerdasan yang dimilikinya. Cara belajar yang diberikan kepada siswa pun harus menarik dan bervariasi, sehingga siswa tidak merasa jenuh untuk menerima materi pelajaran. Disamping itu, lingkungan belajar yang nyaman juga dapat membuat suasana kelas menjadi kondusif. Siswa dapat menangkap materi yang diajarkan dengan mudah karena lebih mudah untuk fokus kepada penyampaian guru. Pembelajaran pada quantum learning menuntut setiap siswa untuk bisa membaca secara cepat dan membuat ringkasan berupa catatan terserah senyamannya cara mereka meringkasnya bagaimana.

Saat kita belajar adalah saat yang harus dibangun sebagai sesuatu yang menyenangkan. Maksudnya yaitu ada manfaat yang kita dapat dari hasil belajar. Ketika kita merasa bahwa ada manfaat yang kita dapat dari belajar, maka dapat dikatakan proses belajar yang telah kita jalani memperoleh keberhasilan. Bagaimana proses belajar yang baik? Proses belajar yang baik harus dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, oleh karena itu guru harus mencari cara terbaik untuk membuat siswa merasa nyaman dan bersahabat ketika melakukan kegiatan belajar mengajar. Ada beberapa fase belajar yang dominan dalam hidup kita yang menunjukan masa-masa dimana belajar merupakan suatu kebutuhan dan paksaan bagi kita. Masa-masa awal belajar dimulai pada umur satu tahun, fase dimana kita mau tidak mau belajar untuk berjalan. Umur dua tahun yaitu fase belajar berkomunikasi karena keinginan dalam diri untuk bisa berbicara dengan orang lain. Pada umur lima tahun, kita sudah mulai tahu sekitar 90% kata-kata yang kita dengar dari orang lain. Enam tahun, fase kita belajar membaca dan masa-masa penurunan semangat belajar adalah ketika umur tujuh tahu, fase dimana kita mulai menganggap belajar sebagai sesuatu yang menyebalkan dan menakutkan. Oleh sebab itu pada masa ini peran orangtua dan guru sangat dibutuhkan.

Sebagai tambahan saja, dalam sehari diperkirakan seorang anak menerima sekitar 460 komentar negatif dan hanya 75 komentar positif. Hal inilah yang merupakan kesalahan dari orang-orang terdekat si anak, karena pujian dan motivasi kurang diberikan kepada anak. Anak akan merasa down karena merasa kurangnya dukungan dari orang sekitar. Padahal kalau kita telaah, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbagai macam beserta kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada salahnya untuk memberikan dukungan kepada anak. Karena rasa percaya diri yang diperolehnya seorang anak dapat mengembangkan minat dan bakatnya melalui kecerdasan yang dimilikinya. Macam-macam kecerdasan yang dimaksud tadi diantaranya yaitu : kecerdasan linguistik (kecerdasan berbahasa), logika-matematik, visual atau spasial (mampu mengaitan dan menghubungkan suatu hal secara analiti), kinestetik (gerak sensor motorik), musikal, intrapersonal (mampu mengendalikan emosi dan tahu jati dirinya), dan yang terakhir yaitu interpersonal (bisa berkomunikasi dengan baik dan senang bersosialisasi dengan orang lain).

Otak manusia tumbuh karena adanya stimulus yang berasal dari sensor motorik yang memberikan kontak dengan lingkungan. Selain itu juga adanya sensor emosional-kognitif yang memberikan stimulus misalnya berupa bermain, meniru, mendongeng dalam diri anak. Sedangkan setiap manusia akan mencapai tahap yang lebih tinggi dalam tingkat kecerdasannya sesuai dengan perkembangan otak dan keingintahuannya, yaitu tahap pembelajaran. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli selama bertahun-tahun dipercayai otak manusia terdiri dari dua bagian yaitu otak kanan dan dan kiri yang mempunyai kemampuan berbeda-beda. Pada otak kiri terdapat bermacam-macam kemampuan, yaitu kemampuan untuk berpikir logis, sekuensial, linear, rasinal (beralasan), konvergen, dan vertikal. Sedangkan otak kanan mempunyai kemampuan berpikir secara acak, tidak teratur (fokus berpindah-pindah), mempunyai sifat yang intuitif artinya pemanfaatan fakta yang ada dikembangkan menjadi lebih imajinatif, berpikir secara holistic atau menyeluruh dan terkait, dan pemikirannya divergen dan lateral.

Pendayagunaan otak sangat berpengaruh terhadap tipe belajar yang ditunjukkan oleh seorang anak. Hal itu dapat dilihat dari seberapa aktif dan pasif-kah partisipasi seorang anak dalam menikmati kegiatan belajar yang dilakukannya. Perbedaan yang mencolok diantara keduanya yaitu, pada tipe anak yang belajar aktif, ia akan belajar apa saja dari setiap situasi yang ada, memanfaatkan apa yang dipelajari sebagai keuntungan kita, selalu proaktif, dan bersandar pada kehidupan. Sedangkan tipe paasif merupakan kebalikkan dari tipe aktif. Hal ini bisa dibilang merupakan hal yang negatif, karena seorang anak tidak melihat kesempatan belajar yang ada, selalu mengabaikan peluang berkembang dari apa yang dipelajarinya, reaktif, dan menarik diri dari kehidupan.

Oleh sebab itu, ada baiknya mengenai betapa pentingnya manfaat belajar harus disampaikan kepada peserta didik sehingga siswa tahu apa saja hal-hal posistif yang ia peroleh dari belajar. Dan juga agar siswa nantinya meningkatkan kemampuan belajarnya untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih luas, sehingga akan timbul pilihan hidup yang lebih banyak, maka akhirnya akan timbul rasa percaya diri yang menjadi kekuatan pribadinya. Untuk menciptakan rasa percaya diri tersebut dapat dilakukan dengan cara yang sangat mudah, yaitu setiap selesai atau berhasil mengerjakan suatu tugas, kita bisa merayakannya. Karena perayaan memberikan perasaan keberhasilan, kesempurnaan, kepercayaan diri, dan motivasi untuk langkah berikutnya.

Selain faktor internal tersebut, faktor eksternal sangat diperlukan guna menunjang motivasi belajar seorang siswa. Dalam hal ini penataan ruang belajar sangat berpengaruh kenyamanan belajar siswa. Penataan lingkungan belajar meliputi perabotan, pencahayaan, musik, alat bantu visual, penempatan, temperature, tanaman, kenyamanan yang diciptakan oleh siswa maupun guru, dan suasana hati yang timbul dari semuanya itu. Kondisi belajar yang menyenangkan dapat juga dilakukan di rumah. Misalnya belajar sambil mendengarkan musik. Keuntungan yang diperoleh dari hal ini yaitu denyut nadi dan tekanan darah menjadi turun dan gelombang otak menjadi lambat sehingga kita akan merasa tenang dan rileks.

Mudah saja menemukan gaya belajar yang kita miliki, karena cara belajar yang kita miliki merupakan gabungan dari cara kita menyerap informasi, cara mengatur informasi, dan cara mengolah informasi yang kita dapat. Jika belajar dilakukan dengan bergantung pada kecerdasan anak, maka akan dapat dikelompokkan modalitas belajar, diantaranya yaitu dengan cara melihat (visual), dengan cara mendengar (auditorial), dan dengan cara melalui gerakan (kinestetik). Atau ada cara belajar terbaru yang saat ini sudah diaplikasikan oleh berbagai kalangan yaitu yang biasa kita kenal dengan sebutan mind-mapping (peta pikiran). Banyak manfaat dari mind-mapping ini, salah satu diantaranya yaitu dapat mempermudah dan meringkas materi yang banyak muatannya. (eduzona.blogspot.com)

QUANTUM LEARNING Untuk MELEJITKAN PRESTASI BELAJAR

Metode pengajaran di sekolah atau Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) masih banyak yang kurang menekankan pada kegiatan belajar sebagai proses. Metode pengajaran masih sering disajikan dalam bentuk pemberian informasi, kurang didukung dengan penggunaan media dan sumber lainnya.

Kondisi ini yang mendorong Arni Arief Lamaka dan Chaerrun Nisa untuk melakukan penelitian terhadap metode Quantum Learning dalam pengajaran. Kedua siswi SMUN 5 Makassar ini meneliti keefektifan metode Quantum Learning terhadap peningkatan prestasi belajar siswa di LBB Gama College, Makassar. Tidak sia sia Arni dan Nisa melakukan penelitian itu. Karya mereka dinyatakan sebagai pemenang pertama Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2002 bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (Republika, 7/10/2002)

Quantum Learning, dalam pandangan kedua siswi ini, adalah seperangkat metode dan falsafah belajar untuk semua umur. Ini mencakup aspek aspek penting dalam program Neuralinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Quantum Learning, dapat pula didefinisikan sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Quantum Learning adalah gabungan yang sangat seimbang antara bekerja dan bermain, antara rangsangan internal dan eksternal,” urainya.

Penelitian dilakukan terhadap siswa dari berbagai sekolah di Makassar yang belajar di lembaga ini. Pengambilan sampel dilakukan secara acak ( random sampling). Jumlah populasi sebanyak 140 orang, sampel diambil 30 persen atau 30 orang.Teknik analisis yang digunakan adalah perbandingan mean (rata rata). Dengan teknik ini, kata kedua siswi itu, memungkinkan penelitian untuk membandingkan mean siswa yang meningkat prestasinya atau menurun prestasinya dengan metode Quantum Learning. Hasil penelitian dibagi dalam dua bagian: kuantitatif dan kualitatif. Hasil kuantitatif adalah gambaran tentang keefektifan penggunaan metode Quantum Learning terhadap peningkatan prestasi siswa di LBB Gama College Makassar yang dinyatakan dalam angka. Hasil kualitatif adalah rumusan hasil penelitian dalam bentuk pernyataan sebagai penguji hipotesis, yaitu apakah metode Quantum Learning efektif digunakan sebagai metode dalan meningkatkan prestasi siswa di LBB Gama College Makassar.

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang menjadi objek penelitian dapat meraih keberhasilan atau meningkat prestasinya. Itu karena lembaga ini melibatkan banyak unsur dalam proses belajar mengajar seperti penataan ruangan yang nyaman, penyajian musik pada saat proses Belajar mengajar berlangsung. Ada komunikasi yang baik dan penggunaan audio visual. Yang paling utama, menurut kedua siswi ini, ialah belajar dengan durasi waktu yang relatif singkat karena menerapkan metode pengajaran serta penyajian materi yang variatik dan inovatik. “Inilah yang disebut seperangkat metode, yaitu Quantum Learning,” jelasnya.

Dari serangkaian penelitian tersebut, Arni dan Nisa menyimpulkan bahwa penerapan metode Quantum Learning efektif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa bila dibandingkan dengan metode ceramah. Kedua siswi ini juga menyimpulkan, sebagian besar siswa di LBB Gama College menanggapi metode Quantum Learning sebagai salah satu bentuk pencapaian kualitas belajar yang potensial, karena mampu menciptakan belajar menjadi nyaman dan menyenangkan

Konsep Quantum Learning
Quantum Learning merupakan metoda pengajaran maupun pelatihan yang menggunakan metodologi berdasarkan teori teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro Linguistic Programming atau NLP (Grinder & Bandler), Experential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson & Johnson) dan Elements of Effective Instruction (Hunter) menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan dan kompatibel dengan cara bekerja otak yang mampu meningkatkan kemampuan dan kecepatan belajar. Percepatan belajar (accelerated learning) dikembangkan untuk menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, modalitas belajar serta keterlibatan aktif dari peserta.

Konsep kunci dalarn Quantum Learning dari berbagai teori dan strategi belajar yang digunakan antara lain:
a. Teori otak kanan kiri
b. Teori otak triune (3 in 1)
c. Pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik)
d. Teori kecerdasan ganda
e. Pendidikan holistic (menyeluruh)
f. Belajar berdasarkan pengalaman
g. Belajar dengan simbol (metaphoric learning)
h. Simulasi / permainan
i. Peta Pikiran (mind mapping)

Paradigma Belajar Model Quantum Learning
Dalam belajar model Quantum Learning agar dapat berjalan dengan benar ini paradigma yang harus dianut oleh siswa dan guru adalah sebagai berikut :
1. Setiap orang adalah guru dan sekaligus murid sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator
2. Bagi kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa santai dan relak.
3. Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberikan oleh fasilitator.
4. Modul pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung.
5. Dalam menyerap dan mengolah informasi otak menguraikan dalam bentuk simbol atau asosiatip sehingga materi akan lebih mudah dicerna bila lebih banyak disajikan dalarn bentuk gambar, diagram, flow atau simbol.
6. Kunci menuju kesuksesan model quantum learning adalah latar belakang (background) musik klasik atau instrumental yang telah terbukti memberikan pengaruh positip dalarn proses pembelajaran. Musik klasik dari Mozart, bach, Bethoven, dan Vivaldi dapat meningkatkan kemampuan mengingat, mengurangi stress, meredakan ketegangan, meingkatkan energi dan membesarkan daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas (Jeannete Vos)
7. Penggunaan Warna dalam model quantum learning dapat meningkatkan daya tangkap dan ingat sebanyak 78%
8. Metoda peran dimana peserta berperan lebih aktif dalam membahas materi sesuai dengan pengalamannya melalui pendekatan terbalik yaitu membuat belajar serupa bekerja (pembelajaran orang dewasa)
9. Sistim penilaian yang disarankan untuk abad 21 dalam pembelajaran adalah 50% penilaian diri sendiri, 30% penilaian teman, 20% penilaian trainer atau atasan (Jeannette Vos)
10. Umpan balik yang positif akan mampu memotivasi anak untuk berprestasi namun umpan balik negative akan membuat anak menjadi frustasi. Ini berdasar hasil riset pakar masalah kepercayaan diri, Jack Carfiled pada tahun 1982. 100 anak ditunjuk oleh periset selama sehari. Hasilnya, bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negative dan hanya 75 komentar positif.

Untuk meningkatkan percepatan belajar dan efisiensi waktu dan melejitkan prestasi belajar tidak ada salahnya di lembaga-lembaga pendidikan perlu mengembangkan metode belajar dengan konsep Quantum Learning. (pascaldaddy512.wordpress.com)

Mengenal Quantum Learning

Quantum learning merupakan suatu kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman daya ingat, serta belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermakna. Quantum learning mendasarkan pada teori-teori pendidikan (Bobbi de Porter, 1999: 32) seperti Accelaerated Learning (Lozanov), Multiple Inteligences (Gardner), Neuro Lingusitic Programming ( Grinder dan bandler), Experience Learning ( Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan Element of Efective Instruction (Hunter). Quantum learning dapat mempertajam pemahaman daya ingat karena dalam pembelajarannya merangkai dari semua teori pendidikan di atas menjadi paket yang multisensory, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak.

Quantum learning sebagai metode pembelajaran tidak bisa lepas dari quantum teaching dalam pembahasannya. quantum learning mengambil istilah fisika yaitu setiap bagian atau materi memiliki energy . Istilah Quantum learning ini kemudian berkembang menjadi quantum bussines, dan bagi pedoman guru untuk menerapkan quantum learning menggunkan quantum teaching. quantum learning dari proyeksi siswa dan quantum teaching dari proyeksi guru. Dalam pembelajaran antara guru dan siswa saling terkait dan terintegrasi dalam tercapainya tujuan pembelajaran.

Quantum learning memberdayakan semua yang ada dalam pembelajaran, baik secara konteks ( latar pengalaman guru dan siswa) dan konten (isi). Konteks adalah latar pengalaman guru dan siswa. Konteks merupakan keakraban komponen dalam pembelajaran yaitu guru, siswa, dan kurikulum. Menurut Bobi de Porter (2009: 37 ) konteks terbagi menjadi Lingkungan, suasana, landasan, rancangan. Lingkungan adalah komponen pembelajaran itu sendiri yaitu guru, siswa, kurikulum, dan kelas serta sekolah. Lingkungan meliputi lingkungan secara fisik dan lingkungan secara social. Penataan ruang kelas, dan bagaimana komunikasi antar komponen dalam pembelajaran. Suasana dianalogikan sebagai semangat para konduktor dan pemain musiknya dalam hal ini siswa dan guru.

Quantum Learning mencakup aspek-aspek penting tentang cara otak mengatur informasi. Menurut Bobi DePorter dkk (2009:16), “Quantum Learning adalah interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya”. Dengan mengutip rumus Albert Einstein, yakni E=mc2, DePorter memisalkan kekuatan energi ke dalam analogi tubuh manusia yang secara fisik adalah materi. Sehingga tujuan belajar menurut quantum learning adalah meraih sebanyak mungkin cahaya. Quantum learning mengaktifkan semua bagian dalam pembelajaran baik dari sisi konteks maupun kontennya.

Asas utama dalam Quantum Learning adalah “ Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka “ ( Bobi de Porter, 2009: 36 ). Memasuki dunia murid adalah langkah pertama, dengan memasuki dunia mereka kita mendapat hak mengajar yang diberikan oleh siswa untuk kita dapat menuntun, memimpin dan memudahkan perjalanan mereka menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Guru dapat melakukannya dengan cara mengkaitkan yang diajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, social, atletik, music, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan terbentuk, kemudian barulah kita dapat menghantarkan dunia kita ke dunia mereka .

Untuk dapat masuk ke dunia mereka maka dalam QL perlu untuk memahami modalitas belajar siswa. Modalitas belajar siswa yang sudah diketahui adalah visual, auditori, dan kinestetik. Dari setiap modalitas belajar siswa ada cara khusus untuk mengatasinya agar optimal belajarnya. Guru dalam melaksanakan pembelajaran memodifikasi penyampaian materi pembelajaran secara kombinasi sehingga ketiga modalitas belajar siswa dapat terlayani.

Visual, modalitas ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingat ( Bobbi Deporter, 2009 : 123) . Guru menggunakan media tulisan yang berwarna, atau berupa peta, diagram, berdiri pada saat menyajikan materi, dapat bergerak berpindah setiap berganti pokok pembicaraan atau segmen.

Auditorial, modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata diciptakan maupun diingat (Bobbi De Porter, 2009 : 123). Guru dapat menggunakan variasi vocal dalam menyampaikan materi, menggunakan pengulangan, menggunakan music sebagai aba-aba untuk kegiatan rutin .

Kinestetik, modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi diciptakan maupun diingat. Guru dapat menggunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Mencoba berbicara dengan setiap siswa secara pribadi setiap hari. Menggunakan bahasa tubuh jika diperlukan waktu menyampaikan informasi.

Quantum learning mempunyai prisip-prinsip atau kebenaran tetap yang diibaratkan sebagai struktur chord dasar dalam suatu simfoni belajar, prinsip tersebut adalah : Segalanya berbicara, Segalanya bertujuan, Pengalaman sebelum pemberian nama, Akui setiap usaha, Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Dari struktur ini kemudian dikembangkan menjadi suatu model pembelajaran Quantum learning yang memiliki cirri yaitu TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, dan Rayakan).

Tumbuhkan, guru menumbuhkan minat siswa, membuat siswa tertarik atau merasa penasaran tentang materi yang akan kita ajarkan. Pernyataan menciptakan jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Penyertaan akan memanfaatkan pengalaman mereka, mencari tanggapan “Yes” dan mendapatkan komitmen untuk menjelajah.

Alami, guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. Unsur ini member pengalaman kepada siswa, dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Pengalaman memberikan kesempatan mengajar untuk memanfaatkan pengetahuan dan keingintahuan mereka. Informasi pengalaman ini membuat yang abstrak menjadi konkret.

Namai, guru menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus , strategi dan sebuah masukkan. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan adalah saatnya mengajarkan konsep, ketrampilan berpikir, dan strategi belajar.

Demonstrasikan , memberi siswa peluang untuk menterjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka kedalam pembelajaran yang lain, dan kedalam kehidupan mereka.

Ulangi, pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “ Aku tahu bahwa aku tahu ini”. Jadi pengulangan harus dilakukan secara multimodalitas dan multikecerdasan, lebih dalam konteks yang berbeda dengan asalnya ( permainan, pertunjukkan, drama dan sebagainya).

Rayakan, perayaan memberi rasa rampung dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan. Sekali lagi, jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.

Rancangan pembelajaran dengan Quantum Learning merupakan implikasi dari Quantum Learning terhadap pembelajaran. Implikasi terhadap pembelajaran yaitu diterapkannya model Quantum Learning dalam pembelajaran. Model Quantum Learning mempunyai ciri utama yaitu yang dikenal dengan istilah TANDUR ( Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan). Ciri utama QL diintepretasikan dalam suatu tahapan pembelajaran sebagai berikut: Fase 1, Pembuatan kesepakatan dan penataan lingkungan belajar yang terbebas dari hambatan pembelajaran. (suasana menyenangkan, komunikasi terbuka, saling memiliki). Fase 2, Menghadirkan pengalaman umum yang dapat dialami siswa. Fase 3, Memberi nama atau kata kunci (symbol) kepada suatu pengetahuan dari pengalaman umum yang dihadirkan dalam bentuk catatan atau peta pikiran. Fase 4, Melakukan presentasi hasil catatan atau peta pikiran pada fase 3. Fase 5, Mendiskusikan presentasi catatan atau peta pikiran. Fase 6, Memberi pengakuan atau penghargaan hasil presentasi .

Metode atau strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Quantum Learning diantaranya adalah : Peta Pikiran, Pasak Lokasi, Catatan TS (Tulis susun), dan Akrostik (Sugiyanto, 2009), Runsump (Aria Djalil, 2009).

Peta pikiran (Mind mapping) merupakan simplifikasi kerja otak yang dituangkan dalam bentuk gambar dua dimensi berupa idea tau konsep yang saling terhubung. Mind Mapping dikembangkan oleh Tony Buzan, untuk melejitkan potensi otak kiri maupun otak kanan. Mind mapping dapat disisipkan gambar atau dibentuk warna warni yang dapat menimbulkan efek extra ordinary pada otak. Mind Mapping ini lebih condong kepada modalitas belajar siswa Visual dan auditori.

Peta konsep (concept mapping), secara fisik peta konsep hampir sama dengan mind mapping. Peta konsep lebih focus pada produk ilmu pengetahuan yang lebih terstruktur, hirarkis, dan terkait. Peta konsep lebih menekankan pada materi atau konsepnya, sedangkan pada mind mapping menekankan pada jalur atau peta psikologi berpikir sehingga mind mapping lebih bebas dari pada peta konsep. Peta Konsep dikembangkan oleh Gowin dan Novak yang berangkat dari teori belajarnya David Ausubel.

Pasak lokasi, metode ini mendasarkan pada modalitas belajar kinestetik, dimana anak diperbolehkan jalan-jalan, tetapi diarahkan kepada kegiatan pembelajaran. Pada setiap lokasi yang dtentukan terjadi proses belajar, yang dimodifikasi oleh guru. Penyusunan lokasi dan tema (materi) pembelajaran dapat menggunakan peta konsep agar lebih terorganisir informasi yang didapatkan siswa dari kegiatan belajarnya.

Catatan Tulis Susun (TS), merupakan teknik mencatat dalam quantum learning mengembang asosiasi memori dengan memberikan komentar atau luapan emosi dapat berupa gambar atau tulisan pada setiap materi yang dicatat. Teknik membuat catatan TS dengan cara membagi 2 kertas dengan memberikan garis vertical, disebelah kiri garis catatan materi dan disebalah kanan yang ruangnya relative lebih sedikit untuk komentar atau luapan emosi siswa, yang bisa membantu mengingat. Sebagai contoh disebelah kiri mencatat tentang jenis koloid berupa sol, emulsi, aerosol,gels maka disebelah kanan dapat memberikan komentar rambut saya bisa seperti ini disertai dengan gambar potongan rambut “Punk Rock”.

Akrostik merupakan metoda mengoptimalkan memori dengan cara membuat akronim dari suatu materi yang harus diingat atau dihafal. Pembuatan akronim ini diusahakan akrab atau familiar dengan kehidupan siswa. Sebagai contoh untuk menghafal unsure kimia golongan IV dengan Cewek sekSi Genit Senang Playboy (C, Si, Ge, Sn, Pb). Atau yang ingin menghafal taksonomi Bloom yang diperbaiki oleh Anderson yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai, dan menciptakan dengan akronim (NgatMi Rapal NiTa).

Runsump, merupakan bentuk dari quantum reading. Runsump ( Read, Underlining, Note-taking, Sumarrising, Understanding, memorizing, practicing) yang dikembangkan (Aria Djalil ,2009:171) untuk mengoptimalkan mengikat makna dalam membaca dalam meningkatkan prestasi hasil belajar.

Demikian sedikit informasi yang bisa kami sampaikan tentang quantum learning, msih banyak kekurangan dalam penulisan ini sehingga besar harapan kami ada saran dan masukkan untuk menyempurnakan tulisan ini, sekian dan terimakasih.

Surakarta, 20 Mei 2010

Disajikan oleh: Agus Wahidi (www.infodiknas.com)

Bagaimana menerapkan metode Quantum Learning di sekolah menurut penggagasnya, Bobbi DePorter?

Anda akan menelusuri bagaimana menerapkan metode Quantum Learning di sekolah menurut penggagasnya, Bobbi DePorter?

Proses belajar mestinya berjalan menyenangkan untuk anak-anak didik. Ini adalah hal yang sesungguhnya sangat mendasar dari sebuah kegiatan belajar. Demikianlah inti "pesan" yang ingin disampaikan dalam buku Quantum Learning yang digagas oleh Bobbi dePorter dan rekannya, Eric Jensen, sekitar 28 tahun lalu.

Menurut dePorter, belajar yang menyenangkan merupakan sebuah konsep sederhana. Meskipun sederhana, ternyata jika berhasil diterapkan dampaknya akan sangat besar. Dampak tersebut akan terasa di dalam diri anak-anak, guru, keluarga, dan dunia pendidikan secara keseluruhan.

Bagaimana menerapkan metode Quantum Learning di sekolah?

Kepala sekolah harus bisa memahami apa yang diharapkan dari guru. Mereka juga harus benar-benar paham mengenai proses belajar. Pendidik mesti memiliki kemampuan untuk melihat apa yang menjadi kekuatan dan kekurangan siswanya. Di samping itu, pendidik juga harus fokus dan dapat memutuskan aspek apa yang harus diperbaiki. Ini bisa dikatakan semacam partnership antara guru dan murid.

Biasanya dalam jangka waktu tiga bulan saat diadakan penilaian, perbaikan sudah bisa terlihat. Agar lebih efektif, di antara para guru sebaiknya memiliki kelompok studi yang membahas, secara periodik, kekurangan dan kelebihan metode belajar-mengajar yang mereka terapkan.

Quantum Learning hanya untuk sekolah-sekolah mahal?

Quantum Learning dapat diterapkan di sekolah dalam kondisi apa pun. Pengalaman saya di Republik Dominika memberi bukti tentang hal itu. Ada sebuah sekolah yang terletak di pinggiran hutan. Sekolah itu bahkan tidak memiliki papan tulis sehingga dindingnya dicat putih untuk dijadikan papan tulis. Bangunannya terbuat dari lumpur yang dikeringkan.


Kami datang untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru di sekolah tersebut. Kami memberitahu kepada mereka bahwa semua mata pelajaran dapat diajarkan dengan alam sebagai bahan peraganya. Murid-murid harus diberitahu tentang manfaat yang mereka dapatkan ketika mereka mempelajari sesuatu.

Para guru itu pun kemudian mengajarkan berhitung dengan menggunakan lagu. Mereka tidak punya alat untuk memutar CD. Di desa, tempat sekolah itu, tidak ada listrik. Mereka pun menggunakan mulut, tepukan tangan, dan senandung untuk belajar. Sebenarnya, apa pun yang ada di sekeliling kita, dapat menjadi alat bantu belajar.


Dalam sistem Quantum Learning, semua pancaindra mesti dilibatkan dalam proses belajar. Jika seluruh pancaindra terlibat, otak pun—organ utama untuk belajar—secara otomatis akan menyerap bahan pelajaran dengan lebih baik. Proses belajar yang menyenangkan akan mendorong kemampuan otak dalam memahami bahan pelajaran.

Di Amerika Serikat, sistem Quantum Learning ini justru kebanyakan diterapkan di sekolah-sekolah negeri, yang populasinya padat, dan penduduknya kebanyakan berpendapatan rendah. Meskipun begitu, ada juga sekolah swasta yang mengadopsinya. (Sumber : Hernowo dari ceremende.blogspot.com)

Perbedaan Quantum Learning dan Quantum Teaching

Anda akan melihat pada uraian yang akan Anda baca mengenai perbedaan antara Quantum Learning dan Quantum Teaching. Dan Anda akan melihat pula bagaimana cara menerapkannya.

Quantum Teaching dan Quantum Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Boby DePorter yang diilhami dari konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat. Quantum Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas, berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Quantum Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Sementara itu, Quantum Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Quantum Teaching diperuntukkan guru dan Quantum Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru, Ibu tentunya perlu mendalami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.

Dalam Quantum Teaching, guru sangat diharapkan sebagai aktor yang mampu memainkan berbagai gaya belajar anak, mengorkestrakan kelas, menghipnotis kelas dengan daya tarik, dan menguatkan konsep ke dalam diri anak. Prinsipnya, bawalah dunia guru ke dunia siswa dan ajaklah siswa ke dunia guru. Dalam Quantum Teaching, tidak ada siswa yang bodoh, yang ada adalah siswa yang belum berkembang karena titik sentuhnya belum cocok dengan titik sentuh yang diberikan guru. Berarti, guru perlu penyesuaian sesuai dengan kondisi siswa dengan berpedoman pada segalanya bertujuan, segalanya berbicara, mengalami sebelum pemberian nama, akui setiap usaha, dan rayakan.

Quantum Learning merupakan strategi belajar yang bisa digunakan oleh siapa saja selain sisiwa dan guru karena memberikan gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara mantap dan berkesan. Caranya, seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulu gaya belajar, gaya berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan dengan cepat mendalami sesuatu. Banyak orang yang telah merasakan hasilnya setelah mengkaji sesuatu dengan cara Quantum Learning. Segalanya dapat dengan mudah, cepat, dan mantap dikaji dan didalami dengan suasana yang menyenangkan. (sumber : Drs. Suyatno, M.Pd dari www.klubguru.com)

Pengertian Quantum Learning

Anda akan menemukan salah satu metode pembelajaran yang bisa menjadikan proses belajar anak menyenangkan dengan hasil yang maksimal.

Charlotte Shelton (1998 : 1) menjelaskan tentang pengertian Quantum. Dalam buku tersebut dituliskan sebagai berikut :

“The word quantum literally means “a quantity of something”, mechanics refers to “the study of motion”. Quantum mechanic is, therefore, the study of sub atomic particles in motion. It is however, erroneous to think of these subatomic particle as quantities of “something”. Subatomic particles are not material things, rather, they are probability tendencies-energy with potentiality. The energy, as the term mechanics implies, is never static. It is always in continous motion, uncceasingly changing from wave to particle and particle to wave, forming the atoms and molecules that subsequently create a material world. It is really quite amazing that those seemingly stable and stationary things we observe in the material world ore composed solely of energy”.



“Kata quantum dalam literatur berarti banyaknya sesuatu, secara mekanik berarti studi tentang gerakan”. Jadi mekanika kuantum adalah ilmu yang mempelajari tentang partikel-partikel sub atom yang bergerak. Namun demikian kekeliruan berpikir tentang partikel sub atom ini merupakan banyaknya benda. Partikel sub atom bukan merupakan kecenderungan energi dengan potensial. Energi sebagai implikasi dalam istilah mekanika tidak pernah statis. Energi selalu bergerak secara terus menerus, tidak pernah berhenti berubah dari gelombang menjadi partikel dan dari partikel menjadi gelombang, membentuk atom-atom dan molekul yang seterusnya membentuk dunia materi. Ini benar-benar hal yang menakjubkan yang terlihat stabil dan statis, apabila kita cermati ternyaQuantum Learningta dunia materi ini tersusun energi”.

Bobbi DePorter dalam artikelnya yang berjudul The Impact of Quantum Learning (http://www.newhorizons.org) atau (http://learningforum.com) menjelaskan pengertian Quantum Learning (QL), sebagai berikut :

“Quantum Learning is a Comprehensive model that covers both educational theory and immediate classroom implementation. Into integrates research-based best practices in education into a unified whole, making content more meaningful and relevant to students’ lives.

Quantum Learning is about bringing joy to teaching and learning with ever-increasing ‘Aha’ moment of discovery. It help teachers to present their content a way that engages and energizes students. This model also integrates learning and life skills, resulting in students who become effective lifelong learners-resposible for their own education”.



“Quantum Learning adalah keseluruhan model yang mencakup kedua teori pendidikan dan pelaksanaan di kelas dengan cepat. Ini menggambarkan praktek dasar penelitian terpadu yang terbaik dalam pendidikan ke dalam keseluruhan, yang membuat isi lebih bermakna dan relevan bagi kehidupan siswa.

Quantum Learning menjadikan mengajar dan belajar menjadi senang dengan peningkatan ‘Aha’ pada kegiatan penemuan. Ini membantu guru menampilkan isi mereka yang merupakan sebuah jalan yang dapat menyertakan dan memberdayakan siswa. Model ini juga memadukan belajar dan kecakapan hidup, menghasilkan siswa-siswa sebagai pebelajar yang efektif selamanya-bertanggungjawab bagi pendidikannya sendiri”.



Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya ( Ary Nilandari 2005:5). Menurut Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, bahwa Quantum Learning berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya dengan “suggestology” atau “suggestopedia” (yang menurut sebagian orang memicu seluruh gerakan Accelerated Learning). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam ruang kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberikan kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugesti (Alwiyah Abdurrahman 2005:14).

Istilah yang hampir dipertukarkan dengan sugestology adalah “percepatan belajar” (accelerated learning). Permercepatan belajar didefinisikan sebagai “memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai persamaan : hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerja sama menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.(DePorter & Hernacki dalam Alwiyah Aburrahman, 2000:14)

Dave Meier mengemukakan bahwa Accelerated Learning adalah filosofi kehidupan dan pembelajaran yang terpadu, mengupayakan demekanisasi dan membuat belajar menjadi manusiawi kembali menempatkan pembelajar tepat di pusat, serta menjadikan pengalaman bagi seluruh tubuh, seluruh pikiran, dan seluruh pribadi. Tegasnya Accelerated Learning adalah hasil yang dicapai, bukan metode yang digunakan. (Rahmani Astuti, 2005 : 34-38)

Quantum Learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan anatara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif, merupakan faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang, dan menciptakan “pegangan” dari saat-saat keberhasilan yang meyakinkan.

Quantum Learning didefinisikan sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Rumus fisika yang terkenal dalam fisika quantum adalah Massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan Energi. Dan ditulis sebagai E = mc2.

Tubuh manusia secara fisik adalah materi, sebagai pelajar, tujuannya adalah untuk meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. Quantum Learning menggabungkan sugestology, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode kami sendiri. Termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar lain, seperti : (1) teori otak kanan/kiri, (2) teori otak triune (3 in 1), (3) pilihan modalitas (visual, Audotorial, kinestetik), (4) teori kecerdasan ganda, (5) pendidikan holistic (menyeluruh), (6) belajar berdasarkan pengalaman, (7) belajar dengan symbol (Metaphoric learning), (8) simulasi/permainan.

Seperti disebutkan di atas pada bagian latar belakang, bahwa untuk melaksanakan/praktek pembelajaran Metode Quantum Learning adalah menggunakan Model Quantum Teaching. Quantum Teaching adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi itu mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. (De Porter, 1999 : 5).

Sejalan dengan itu menurut Ausubel dalam Ismail (1998 : 4.17) disebutkan bahwa belajar menjadi bermakna (meaningful) jika informasi yang hendak dipelajari disusun sesuai dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa, dengan informasi yang telah dimilikinya, dengan demikian anaka akan menghubungkan informasi baru tersebut dengan informasi yang telah dimilikinya.

Mulyasa (2005:69) mengatakan, pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu, untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif, dan menyenangkan diperlukan berbagai keterampilan, yaitu keterampilan membelajarkan atau keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagai integritas dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.

Menurut De Porter dalam Ary Nilandari (2000:6) Quantum teaching bersandar pada konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Ini adalah Asas Utama sebagai alasan dasar di balik strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Maksudnya untuk mendapatkan hak mengajar, seorang guru harus membuat jembatan autentik memasuki kehidupan murid sebagai langkah pertama. Setelah kaitan itu terbentuk bawalah mereka ke dunia kita sehingga siswa dapat membawa apa yang dipelajari ke dalam dunianya dan menerapkannya pada situasi baru.

Quantum Teaching juga memiliki 5 prinsip, atau kebenaran tetap. Serupa dengan Asas Utama “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.” Prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek Quantum Teaching. Prinsip-prinsip tersebut adalah (1) segalanya berbicara, (2) Segalanya bertujuan, (3) pengalaman sebelum memberi nama, (4) akui setiap usaha, (5) jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.

Model Quantum Teaching hampir sama dengan sebuah simfoni, yaitu ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman musik. Unsur-unsur itu dibagi menjadi dua kategori yaitu konteks dan isi. (De Porter 2000 : 8). Konteks adalah latar untuk pengalaman. Konteks merupakan keakraban ruang orkestra itu sendiri (lingkungan), semangat konduktor dan para pemain musiknya (suasana), keseimbangan instrument dan musisi dalam bekerja sama (landasan), dan ineterpretasi sang maestro terhadap lembaran musik (rancangan). Unsur-unsur itu berpadu dan menciptakan pengalaman musik. Sedangkan isi adalah bentuk penyajian. Anggapan bahwa lembaran musik itu sendiri sebagai isi-isi, not-not nyata pada sebuah halaman, yang lebih dari sekedar not-not pada sebuah halaman. Salah satu unsur isi adalah bagaimana tiap frase musik dimainkan. Isi juga meliputi fasilitasi ahli sang maestro terhadap orkestra, memanfaatkan bakat setiap pemain musik dan potensi setiap instrumen.

Dalam proses pembelajaran unsur-unsur yang terdiri dari suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian dan fasilitasi disusun sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan kesuksesan belajar siswa. Konteks menata panggung belajar mempunyai empat aspek yaitu :

1. Suasana

Suasana kelas mencakup bahasan yang dipilih, cara menjalin simpati dengan siswa, dan sikap guru terhadap sekolah serta belajar. Suasana yang penuh kegembiraan, akan membawa kegembiraan pula dalam belajar.

2. Landasan.

Kerangka kerja yaitu tujuan, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan bersama yang memberi guru dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.

3. Lingkungan

Adalah cara guru menata ruang kelas meliputi pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung proses belajar.

4. Rancangan.

Penciptaan terarah unsur-unsur penting yang dapat menumbuhkan minat siswa, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar-menukar informasi.

Quantum Teaching memodelkan filosofi pengajaran dan strateginya dengan Kerangka Rancangan Belajar yang dikenal dengan TANDUR. TANDUR adalah sebuah makna dari Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching yaitu T (tumbuhkan), A (alami), N (namai), D (demonstrasikan), U (ulangi) dan R (rayakan).

Minat seseorang timbul tidak secara tiba-tiba/spontan, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja. (Sairan, 2003 : 16). Oleh sebab itu, minat akan selalu berkaitan dengan kebutuhan atau keinginan. Dalam pembelajaran model Quantum Teaching yang penting adalah bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sairan (2003 : 19), bahwa penerapan prinsip pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan minat belajar siswa, meningkatkan ketuntasan belajar siswa, dan menjadikan suasana kelas belajar lebih menarik dan menyenangkan.

Menurut Michael Gazzaniga dalam Ary Nilandari (2005:7) mengemukakan, bahwa dorongan biologis alamiah itu sederhana, kemampuan atau keterampilan baru akan berkembang jika diberikan lingkungan model yang sesuai (De Porter, 2000 : 11). Disini berarti guru harus mampu menciptakan lingkungan model yang sesuai dengan situasi.