Tampilkan postingan dengan label Metode Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Belajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juni 2010

Prestasi Anak Lebih Rendah dari IQ nya, Inilah Alasannya!

Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya pintar, cerdas, dan mampu menyelesaikan tugas-tugas akademik sekolah dengan baik, sukur-sukur rangking satu. Harapan inilah yang menyebabkan orang tua berlomba-lomba memfasilitasi berbagai macam keperluan anak, termasuk les privat berbagai macam. Harapannya agar anak menjadi siswa seperti yang diharapkan. Meskipun sudah dileskan berbagai macam pelajaran, masih banyak anak yang berprestasi rendah padahal berdasarkan tes inteligensi (IQ) anak termasuk berIQ rata-rata bahkan superior (lebih besar dari 110 skala Weschler).

Berdasarkan hasil penelitian Yumil Achir (dalam Utami Munandar, 2004) sekitar 39 % siswa berbakat di Jakarta memperoleh nilai di bawah rata-rata. Bahkan dari hasil penelitian di Amerika Serikat diperkirakan antara 15 – 50 persen anak berbakat berprestasi kurang (underachiever). Pertanyaannya adalah “mengapa anak berprestasi di bawah kemampuannya?”

Banyak teori untuk menjelaskan kenapa anak berprestasi di bawah potensinya (uncerachiever). Menurut Utami Munandar (2004), salah satu penyebabnya adalah latar belakang seorang, yang menyangkut rasa harga diri yang rendah. Rasa harga diri yang rendah adalah ketidakpercayaan atas kemampuan yang dimiliki. Mereka tidak percaya bahwa mereka mampu melakukan apa yang diharapkan orang tua dan guru dari mereka. Untuk menutupi rasa harga diri mereka, biasanya dengan perilaku berani dan menentang atau dengan mekanisme pertahanan untuk melindungi diri. Misalnya dengan menyalahkan sekolah atau guru atau dengan menyatakan tidak peduli atau tidak berusaha dengan sungguh-sungguh jika prestasi mereka kurang memuaskan.

Sering kita mendengar anak mengatakan “matematika memang susah”, hal ini karena berkaitan dengan rasa harga diri yang rendah sehingga untuk menutupi kegagalan mereka menyalahkan pelajaran matematika atau gurunya. Menyalahkan pelajaran atau guru merupakan mekanisme anak untuk menghindari tanggung jawab untuk berprestasi.

Menurut Adi W. Gunawan (2004), harga diri yang rendah merupakan bagian dari konsep diri yang rendah. Apakah Konsep diri itu ? Konsep diri terdiri dari tiga komponen yaitu diri ideal (self ideal), citra diri (self image), dan harga diri (self esteem).

DIRI IDEAL (SELF IDEAL)
Sering kita mendengar atau menyaksikan anak meniru-niru gerakan pahlawan kartun semisal spiderman, batman, superman, power ranger, dll. Apa yang sering kita lihat dari perilaku meniru pahlawan kartun oleh anak pada dasarnya adalah proses pembentukan diri ideal. Anak melihat para pahlawan tersebut menunjukkan keberanian, rasa cinta kasih, ketabahan, ketekunan, kesabaran, integritas, kejujuran, dan masih banyak karakter positif lainnya. Secara tidak sadar anak sedang membentuk diri ideal yaitu ingin menjadi pahlawan kartun tersebut.
Menurut Adi W Gunawan (2004), diri ideal menentukan sebagian besar arah hidup kita. Diri ideal menentukan arah perkembangan diri dan pertumbuhan karakter serta kepribadian. Diri ideal merupakan gabungan dari semua kualitas dan ciri kepribadian orang yang sangat kita kagumi. Diri ideal merupakan gambaran dari sosok seseorang yang sangat kita inginkan jika kita bisa menjadi orang itu.
Bila tidak hati-hati untuk membentuk atau memilih diri ideal secara sadar, kita akan cenderung menetapkan seseorang untuk menjadi diri ideal kita. Kita bisa melihat hal itu pada banyak kasus anak-anak. Ketika orang tua tidak dapat menampilkan sikap dan perbuatan yang ideal, jangan salahkan anak ketika menginginkan diri ideal pada tokoh-tokoh kartun, bintang film, penyanyi, dll. Celakanya, tokoh yang diidealkan anak banyak yang mempunyai masalah sosial seperti narkoba, minuman keras, perbuatan kriminal, dll. Bahkan film kartunpun banyak mempertontonkan kekerasan dan kesadisan. Berapa banyak anak yang bertindak agresif hanya gara-gara mencontoh tokoh idolanya di film katun.
Pada anak kecil yang masih belum mengerti, orang tua sebaiknya sangat hati-hati dalam menetapkan diri ideal untuk anak. Banyak orang tua yang terlalu berambisi, yang akhirnya menyengsarakan anak karena menetapkan diri ideal yang terlalu sulit untuk dicapai oleh anak. Sebagai contoh, orang tua menuntut anak untuk selalu mendapatkan nilai 100 dalam setiap ulangan/tes dan jika tidak mencapainya anak akan dihukum. Ini adalah konsep diri ideal yang terlalu sulit dicapai oleh anak.

CITRA DIRI (SELF IMAGE)
Banyak anak merasa bahwa dirinya sangat “bodoh” untuk mengikuti pelajaran di kelas. Mereka mengeluhkan pelajaran yang sulit dimengerti seperti matematika, sulit menghafal seperti IPA, IPS dan PKn, serta berbagai macam kesulitan pelajaran yang lain. Berawal dari kesulitan ini lama-lama anak tidak menyukai pelajaran tertentu. Biasanya nilai pelajaran tersebut di bawah standar. Perasaan “bodoh” semakin melekat jika anak mendapat label “bodoh” dari lingkungan (orang tua, guru, teman, dan saudara). Akhirnya, anak akan merasa yakin bahwa dirinya memang “bodoh”. Dalam hal ini anak mempunyai citra diri yang negatif yaitu merasa dirinya “bodoh”.
Citra diri adalah cara kita melihat diri kita sendiri dan berpikir mengenai diri kita sekarang saat ini. Citra diri sering disebut sebagai “cermin diri”. Kita akan senantiasa melihat ke dalam cermin ini untuk mengetahui bagaimana kita harus bertindak atau berlaku pada suatu keadaan tertentu. Kita akan selalu bertindak dan bersikap sesuai dengan gambar yang muncul pada cermin diri kita (Adi W Gunawan, 2004).
Misalnya bila anak melihat dirinya di dalam cermin diri sebagai orang yang percaya diri, tenang, dan mampu belajar dengan baik, maka setiap kali belajar anak akan merasa percaya diri, tenang dan mampu, serta akan selalu positif dan gembira. Pada akhirnya anak akan berprestasi dan mendapatkan hasil yang luar biasa. Jika ternyata karena suatu hal anak tidak berhasil (mendapat nilai jelek), ia akan mengabaikan kegagalan tersebut dan menganggap hanya suatu kondisi yang bersifat sementara karena ia nantinya pasti akan berhasil. Ini disebabkan citra diri anak sangat jelas
Perubahan atau peningkatan konsep diri yang paling cepat akan terjadi bila anak mengubah citra dirinya. Saat anak melihat dirinya dengan cara yang berbeda, ia akan bertindak dengan cara berbeda. Bila anak bertindak berbeda, ia akan merasa berbeda. Karena anak bertindak dan merasa berbeda, ia akan mendapatkan hasil yang berbeda.

HARGA DIRI (SELF ESTEEM)
Budi merasa dirinya paling “bodoh” di kelas karena nilainya selalu jelek. Atik merasa minder karena kulitnya hitam dan hidungnya “pesek”. Anto malu bergaul dengan teman-temanya karena ia berasal dari keluarga miskin (bapaknya seorang penjual koran). Beberapa contoh di atas adalah konsep harga diri yang rendah. Padahal kalau di lihat lebih jauh, meskipun nilai pelajaran Budi selalu jelek tapi Budi jago bermain bola. Atik memang berkulit hitam, tapi ia anak yang rajin dan disiplin. Ia tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Meskipun Anto dari keluarga miskin, tapi Anto adalah anak yang pintar karena ia selalu rangkin satu.
Contoh di atas merupakan konsep harga diri yang rendah. Harga diri didefinisikan sebagai seberapa suka kita terhadap diri kita sendiri. Semakin kita menyukai diri kita, menerima diri kita, dan hormat pada diri kita sendiri sebagai seorang yang berharga dan bermakna, semakin tinggi harga diri kita. Semakin kita merasa sebagai manusia yang berharga, kita akan semakin positif dan bahagia.
Harga diri akan menentukan semangat, antusiasme, dan motivasi diri. Harga diri adalah penentu prestasi dan keberhasilan kita. Orang dengan harga diri yang tinggi memiliki kekuatan pribadi yang luar biasa besar dan dapat berhasil melakukan apa saja di dalam hidupnya. Banyak contoh disekeliling kita yang dapat kita jadikan contoh betapa luar biasanya nilai harga diri. Kalau kita melihat Tika Pengabean (artis, P. Projek, MC), jika ia mempunyai harga diri yang negatif seperti selalu menyesali badannya yang tambun (baca gemuk) dan wajahnya yang “tidak cantik”, dipastikan ia tidak akan berhasil seperti sekarang.
Sekitar awal abad ke-20 kita mengenal seorang anak manusia bernama Helen keller. Sejak lahir ia buta, bisu, tuli, dan mempunyai masalah dengan perilaku. Semua orang menggap Hellen tidak punya masa depan, tetapi sang guru berpendapat lain. Hellen adalah anak yang cerdas meskipun ia buta, bisu dan tuli. Berkat ketekunan gurunya yang membangkitkan harga dirinya, ia mampu kuliah di Universitas ternama di AS. Prestasi akademiknya mampu melampaui mahasiswa yang normal. Pada saat mahasiswa yang lain tidur terlelap dalam dekapan malam, ia dengan dibantu pendampingnya sibuk membaca buku-buku teks yang menggunakan huruf braile sampai jari-jarinya terasa perih. Hellen Keller yang buta, bisu dan tuli menjadi pembicara terkenal di dunia dan menulis banyak buku. Cerita hidupnya menginspirasi jutaan orang yang buta, tuli dan bisu diseluruh dunia. Inilah motivasi luar biasa yang dihasilkan dari harga diri yang tinggi.

KESIMPULAN
Jadi, dalam konteks anak, diri ideal adalah orang/tokoh yang oleh anak sangat ingin menjadi di suatu waktu di masa depan. Diri ideal menentukan arah hidup, pertumbuhan, dan evolusi diri anak. Citra diri adalah cara anak melihat dirinya sendiri dan menentukan prestasinya di masa sekarang. Harga diri anak ditentukan oleh hubungan antara diri ideal dan citra dirinya.
Harga diri yang tinggi adalah dasar dari sebuah konsep diri yang positif dan merupakan unsur penting untuk mencapai keberhasilan. Semakin anak menyukai dan menghargai dirinya sendiri, ia akan semakin baik dalam mengerjakan sesuatu.
Orang tua yang mempunyai masalah dengan prestasi anak, mulai sekarang sebaiknya mulai merenungkan tentang hal ini. Sudahkan anak kita mempunyai konsep diri yang positif? Atau malah anak kita mempunyai konsep diri yang negative? (bersambung)

SUMBER :

Gunawan, Adi W. 2004. Genius Learning Strategy, Petunjuk praktis untuk menerapkan Accelerated Learning. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. (sd02.alirsyad-cilacap.com)

Contoh Rumusan Kurikulum Dengan Memadukan Berbagai Strategi dan Pendekatan Belajar

Anda akan melihat contoh rumusan kurikulum dengan memadukan berbagai strategi dan pendekatan belajar.

Anda bisa mengamati Kurikulum SMP Al-Muttaqin

Kurikulum

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (KBM). Beranjak dari hal tersebut maka dalam pelaksanaan sebuah kurikulum harus memperhatikan tiga hal yaitu isi bahan pelajaran, strategi pembelajaran serta evaluasi dari kegiatan belajar mengajar.

Isi Bahan Pelajaran/Kontens
Bahan pembelajaran di SMP Al Muttaqin adalah merupakan penggabungan bahan-bahan dari dinas, yayasan dan atau pengembangan dari kreatifitas pendidik dengan tanpa keluar dari kontek kurikulum

Strategi Pembelajaran


Strategi Pembelajaran KBK

Sistem pengelolaan kurikulum ini menuntut kegiatan belajar mengajar yang memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Pemberdayaan ini diarahkan untuk mendorong individu belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar. Kegiatan belajar mengajar dilandasi oleh prinsip-prinsip berikut.

1. berpusat pada peserta didik

2. mengembangkan kreativitas peserta didik

3. menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang

4. mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai

5. menyediakan pengalaman belajar yang beragam

Aplikasi Strategi Pembelajaran di SMP Al Muttaqin

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Penerapan pendekatan ini memperhatikan prinsip

1. Relating: proses pembelajaran selalu dikaitkan dengan kontek pengalaman kehidupan nyata.

2. Experiencing: proses pembelajaran ditekankan kepada penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention)

3. Applying: proses pembelajaran bilamana pengetahuan dipresentasikan didalam konteks pemanfaatannya.

4. Cooperating: proses pembelajaran melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama, dsb.

5. Transferring: proses pembelajaran melalui pemanfaatan pengetahuan didalam situasi atau konteks baru.

Paradigma Life Skill

a. Happy; bahwa dalam proses pembelajaran dibuat sedemikian rupa tanpa paksaan sehingga peserta didik merasa senang ketika didalam dan atau di luar pembelajaran/kelas

b. Full Actualize, bahwa dalam proses pembelajaran yang diselenggarakan menjadi tempat aktualisasi peserta didik dan pendidik.

c. Usefull; bahwa hal yang dipelajari harus berdaya guna bagi orang lain dan peserta didik pada masa kini dan yang akan datang.

Accelerated Learning

Penerapan Accelerated Learning, di SMP Al Muttaqin memperhatikan lima aspek. Diantaranya:

1. Dalam KBM disediakan perangkat pembelajaran.

2. Dalam KBM setiap peserta didik diberi kesempatan untuk memanipulasi perangkat pembelajaran

3. Dalam pembelajaran peserta didik memiliki pilihan atau kebebasan untuk melakukan aktifitas pembelajarannya

4. Dalam KBM setiap peserta didik diberi kebebasan untuk berkomunikasi

5. Dalam KBM Pendidik memberikan penguatan maupun support

Penanaman Prinsip-prinsip Kepemimpinan

Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang memiliki visi menjadi sekolah terbaik yang mencetak calon-calon pemimpin maka dalam pembelajaran di SMP Al Muttaqin ditanamkan prinsip-prinsip kepemimpinan, yaitu;

1. Memahami diri sendiri (Understanding self)

Memahami dan mengembangkan sikap positif tentang diri peserta didik, apa yang disukai dan tidak disukainya, apa cita-citanya dan hal lainnya yang berkenaan tentang pengenalan peserta didik terhadap dirinya.

2. Berkomunikasi dengan orang lain (Comunicating)

Komunikasi efektif dua arah dalam berbagi informasi melalui tulisan, mendengar, berbicara dan bahasa tubuh.

3. Memahami orang lain (Getting with others)

Mengembangkan dan memahami bagaimana berhubungan dengan orang lain (individual atau dengan kelompoknya) dan bagaimana mereka menerima dan mengapresiasikan perbedaan antara dirinya dengan orang lain.

4. Belajar untuk bagaimana belajar (Learning To Learn)

Memahami keterampilan dan metoda yang membantu belajar dan bagaimana peserta didik dapat menjadi kekuatan positif dalam menggunakan peluang belajar yang dimilikinya

5. Membuat keputusan (Decision Making)

Mempelajari langkah-langkah dan pendekatan untuk mencapai tujuan, pemecahan masalah dan mengambil aksi/tindakan secara individu maupun bersama

6. Pengelolaan (Managing)

Memilih dan menggunakan bahan-bahan yang tersedia untuk mencapai segala yang diinginkan (untuk mencapai tujuan). Hal ini melibatkan identifikasi sumber daya (waktu, benda-benda, orang atau uang) dan menggunakan sumberdaya tsb secara efektif

7. Bekerja dalam kelompok (Working with group)

Belajar bagaimana kelompok orang bekerja sama dan bagaimana menolong kelompok untuk menyelesaikan tujuannya dengan baik.

Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pembelajaran Depdiknas mengacu pada pola evaluasi Penilaian Berbasis Kelas. Penilaian Berbasis Kelas merupakan kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi yang ditetapkan. Penilaian Berbasis Kelas bersifat internal, yaitu hanya dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan. Penilaian tersebut juga merupakan bagian dari kegiatan belajar mengajar sebagai masukan bagi peningkatan mutu hasil belajar.

Penilaian Berbasis Kelas memberikan kewenangan pada sekolah untuk menentukan kriteria keberhasilan, cara, dan jenis penilaian. Penilaian Berbasis Kelas menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.

1. Berorientasi pada kompetensi

Penilaian mengacu pada kompetensi yang dimuat dalam kurikulum. Semua kompetensi yang ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik mendapat peluang yang sama untuk dinilai.

2. Mengacu pada patokan

Penilaian mengacu pada hasil belajar sebagai kriteria ditetapkan (criterion reference assessment). Sekolah menetapkan kriteria sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

3. Ketuntasan belajar

Pencapaian hasil belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi lebih lanjut. Sekolah dapat menetapkan tingkat ketuntasan belajar sesuai kondisi dan kebutuhan.

4. Menggunakan berbagai cara

Pengumpulan informasi menggunakan berbagai cara untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik. Tes maupun non-tes dipergunakan untuk pengumpulan informasi.

5. Valid, adil, terbuka, dan berkesinambungan

Penilaian memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar peserta didik, adil terhadap semua peserta didik, terbuka bagi semua pihak, dan dilaksanakan secara terencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik sebagai hasil kegiatan belajarnya.

Penerapan Penilaian Berbasis Kelas di SMP Al Muttaqin

1. Penilaian Kinerja (performance assesment)

Penilaian kinerja dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dilakukan agar penilaian sebuah proses pembelajaran tidak hanya terpacu pada hasil namun juga proses.

2. Portefolio (portofolio)

Portefolio adalah koleksi/kumpulan dari berbagai ketrampilan, ide, minat dan keberhasilan atau prestasi peserta didik selama jangka waktu tertentu. Koleksi tersebut memberikan gambaran perkembangan peserta didik setiap saat. portefoliomerupakan perspektif jangka panjang yang mengkalkulasikan peningkatan yang dialami.

3. Penilaian pribadi (self assesment)

Penggunaan penilaian pribadi dilakukan oleh peserta didik untuk dirinya dan teman-temannya. Hasil penilaian ini dijadikan salah satu sumber penilaian pendidik.

4. Jurnal (Journal)/makalah/artikel

Jurnal/makalaj/artikel merupakan suatu hasil proses refleksi dimana peserta didik berpikir tentang proses belajar dan hasilnya, kemudian menuliskan ide-ide, minat dan pengalamannya. Dengan kata lain jurnal/makalaj/artikel membantu peserta didik dalam mengorganisasikan cara berpikirnya dan menuangkannya secara eksplisit dalam bentuk gambar, tulisan dan bentuk lainnya. Hasil dari karya peserta didik tersebut dijadikan salah satu sumber penilaian oleh Pendidik.

5. Proyek/penugasan

Penilaian proyek dilakukan dengan cara setiap peserta didik diberikan penugasan tertentu, kemudian dikerjakan di luar kegiatan sekolah. Hasil dari proses ini dikumpulkan dan dijadikan bahan penilaian Pendidik.

6. Tes Tertulis

Tes tertulis dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti evaluasi harian maupun bulanan dan akhir pokok bahasan. Evaluasi ini dapat berbentuk essay maupun pilihan ganda

7. Tes Lisan

Tes lisan dilakukan pendidik dengan beragam cara. Diantaranya wawancara, pertanyaan penguat, presentasi, demontrasi maupun diskusi.

Semua hasil penilaian dalam satu semester diolah untuk kemudian dijadikan raport kemajuan belajar peserta didik di pertengahan dan akhir semester.



Tujuan Pendidikan Di SMP Al Muttaqin

Meningkatkan Pengetahuan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan pengetahuan, teknologi dan kesenian.

Meningkatkan Kemampuan peserta didik sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam semesta

Program Pengajaran Sekolah

Program Pengajaran Sekolah Menggunakan Kurikulum Dinas Pendidikan Nasional dengan muatan yayasan : Bahasa Arab, Al Quran , dan Pembinaan Kepribadian.

Program unggulan dari SMP Al Muttaqin adalah membuka kelas Bilingual, yaitu kelas dimana dalam pembelajaran IPA, Matematika, IPS, Seni Budaya dan TIK menggunakan pengantar Bahasa Inggris. Khusus untuk mata pelajaran IPA dan Matematika selain menggunakan kurikulum Dinas Pendidikan Nasional juga Kurikulum Internasional


Program Pengajaran Khusus

Program yang dilaksanakan pada waktu istirahat dan setelah jam pelajaran berupa :

Pembinaan Kepribadian Islami: Ba’da Duhur Tausiah/Ceramah dengan menggunakan bahasa Inggris dan Ba’da Ashar Tausiah/Ceramah dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Pembinaan Bahasa : setor pembendaharan kosa kata bahasa Inggris

Ekstra Kurikuler : Program ini harus diikuti oleh seluruh peserta didik, Setiap peserta didik diwajibkan memilih satu dari sekian banyak pilihan

Kepemimpinan : seluruh peserta didik diharapkan terlibat dalam organisasi peserta didik berupa Qid’s, Pramuka, UKS, dan Jurnalis (bulletin dan penyiar radio)

Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) : Program ini diikuti seluruh peserta didik dengan kegiatannya adalah pendalaman keislaman, kemandirian, dan pengembangan seni.

3 Ranah Keunggulan

Pertama, ranah afektif, yaitu konsep pendidikan kepribadian Islami . Dengan konsep pendidikan ini diharapkan peserta didik mampu menguasai dasar-dasar ajaran Islam seperti menguasai pelaksanaan ibadah-ibadah sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW, hafal Al Qur'an minimal 2 juz, dan memiliki akhlak yang Islami.

Kedua, ranah kognitif, yaitu mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketiga, adalah ranah psikomotorik, yaitu memiliki ketrampilan dan keahlian.

Kepribadian Islami

Menguasai Dasar-dasar Ajaran Islam
Memiliki iman yang kokoh dan mendalam
Mampu menghafal AL Qur'an minimal 2 juz
Menguasai pelaksanaan ibadah sesuai sunnah
Menguasai do'a-do'a keseharian, hadits dan ayat-ayat Al qur'an pilihan

Memiliki Akhlak Islami
Mencintai dan menghormati orangtua dan pendidik serta orang yang lebih tua
Menyayangi teman dan orang yang lebih muda
Memiliki kecenderungan yang kuat dalam beramal saleh
Tidak memiliki catatan negatif perilaku keseharian

Penguasaan Iptek
Mampu menyerap dan menguasai materi pelajaran yang didapat dengan nilai (raport)
sesuai dengan SKBM dan rata-rata NEM minimal 8,5
Memiliki semangat menuntut ilmu, membaca dan ingin tahu/meneliti untuk mencapai kebenaran

Ketrampilan dan keahlian
Menguasai bahasa Asing (Bahasa Inggris tingkat Intermediate, Bahasa Arab pada tingkat dasar)
Mampu mengolah dan melaporkan informasi secara tertulis
Menguasai dan terampil menggunakan alat bantu berteknologi tinggi
Menguasai dan/atau berprestasi pada salah satu cabang olahraga atau kesenian, baik secara individu maupun kelompok
Mandiri memenuhi kebutuhan pribadi dan memiliki jiwa kepemimpinan.

(smpalmuttaqin.net)

Saat Di Dalam Kelas Justru Proses Belajar Jadi Terhenti

Melanjutkan tulisan saya di CTL (Contextual Teaching and Learning) bahwa proses belajar anak untuk hidup justru terhenti di bangku sekolah. Sekolah yang identik sebagai tempat belajar, tempat penanaman budi pekerti, pusat pembelajaran budaya, dan sebagai pusat penempaan anak agar menjadi manusia dewasa dan mandiri. Sayang sekali justru sekolahan inilah yang sekarang menghentikan proses pembelajaran tersebut.

belajar terbatas di kelas

Di bangku sekolah anak hanya belajar sangat sedikit tentang bagaimana hidup di dunia yang sebenarnya. Di bangku sekolah anak tidak lebih dari sekedar “nyantri” dengan mencoba menjauhkan diri dari segala urusan duniawi. Padahal nyata-nyata tujuan dari 2 lembaga pendidikan tersebut adalah berbeda. Di sekolah anak dipenjara oleh dinding-dinding kelas berukuran 7 x 7 meter dengan kegiatan yang monoton untuk mendengarkan guru dengan sekali-sekali ikut bicara pada saat ditanya oleh gurunya. Tidak ada proses belajar mengatasi permasalahan yang dia hadapi sehari-hari di rumah. Tidak ada lagi proses belajar untuk menyongsong masa depan dalam persaingan kerja dan sebagainya.

Itulah sekilas yang digambarkan oleh kondisi sekolah-sekolah yang masih menerapkan konsep pembelajaran tradisional yang hanya mengejar hasil Ujian Nasional. Para guru tidak salah, sekolah juga tidak salah. Namun barangkali sistem dan budaya masyarakat yang salah.

Sistem menghendaki Ujian Nasional sebagai standar nasional kualitas pendidikan di seluruh wilayah. Padahal Ujian Nasional tidak dapat menilai kompetensi siswa secara nyata, selain hanya kemampuan mengingat saja. Budaya masyarakat juga sudah terlanjur keliru mensikapi dalam menilai kualitas suatu sekolah. Menerutnya sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang mampu menghasilkan siswa-siswi yang bernilai Ujian Nasional tinggi. Selain itu jika sekolah dipercaya untuk menentukan ujian sendiri juga belum bisa dipercaya tingkat kesahihannya. Apakah mereka akan obyektif menilai hasil kerja mereka sendiri dalam membelajarkan siswa?

Sebuah permasalahan yang sangat sulit untuk di jawab. (sunartombs.wordpress.com)

Penerapan Quantum Learning Pada Pelajaran Fisika

Anda akan melihat bagaimana menerapkan Quatum Learning pada pelajaran fisika. Inilah Penerapan Pembelajaran Quantum (Quantum Learning) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional telah menghembuskan angin segar bagi peningkatan mutu pendidikan. Di mana dengan lahirnya Undang-Undang ini diharapkan akan tercapainya tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Dasar 1945, yaitu untuk mencerdasarkan kehidupan bangsa dan

mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Di mana hal ini dapat terwujudkan dengan meningkatkan sistem pembelajaran yang diterapkan pada semua lembaga-lembaga pendidikan formal ataupun informal yang ada di negara kita.
Hingga saat ini sistem pembelajaran yang ada umumnya kurang mendukung peningkatan mutu tamatan pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Indikator atau tolak ukur keberhasilan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran hanya didasarkan pada kompotensi kognitif (pengetahuan) anak didik dalam menjawab pertanyaan yang terdapat pada materi ulangan atau evaluasi harian, evaluasi bulanan atau pada evaluasi belajar tahap akhir sebagai salah satu ketercapaian tujuan pendidikan. Indikator lain seperti, keterampilan, keimanan, tanggung jawab, kepribadian, dan budi pekerti kurang mendapat perhatian dan penilaian yang seimbang dan proposional.
Sehubungan dengan hal di atas, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Esensi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah bagaimana mengajar dan mendidik siswa dari individu yang belum memiliki kerangka pikir (kognitif) yang berkualitas, sikap mental (afektif) yang berkualitas, dan keterampilan (psikomotorik) yang berkualitas menjadi individu yang memiliki kerangka berpikir (kognitif), sikap mental (afektif) dan keterampilan (psikomotor) yang berkualitas dan seimbang, berujung pada dihasilkannya tamatan yang memiliki kecakapan hidup (life skill) (Achjar, 2006 : 1).
Telah menjadi isu nasional bahwa penguasaan siswa terhadap materi fisika sangat rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Oleh karena itu, diperlukan suatu langkah proaktif dari seluruh elemen pendidikan terutama guru yang mengajarkan materi fisika di sekolah-sekolah yang ada.
Hasil wawancara yang dilakukan penulis terhadap salah satu guru fisika kelas X SMA Negeri 1 Tirawauta pada tanggal 3 Maret 2007, dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil ulangan harian pada pokok bahasan kinematika gerak lurus sebesar 5,21. Nilai ini belum memenuhi standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) dari sekolah yaitu 6,0. Nilai ini tentunya perlu perhatian dari berbagai pihak khususnya guru mata pelajaran fisika untuk melakukan alternatif baru dalam rangka perbaikan proses belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta. Sehingga diharapkan dalam pembelajaran fisika tersebut dapat dilahirkan siswa-siswa dengan kerangka pikir, sikap mental dan keterampilan yang berkualitas dan seimbang, yang memiliki kecakapan hidup (life skill) dalam bidang fisika. Dilihat dari hasil rata-rata belajar siswa tiap tahun, pokok bahasan kinematika gerak lurus merupakan salah satu pokok bahasan yang dikategorikan masih rendah. Hal ini disebabkan masih kurangnya media pembelajaran yang dapat membangun motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.
Banyak strategi dan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk menyajikan materi pembelajaran fisika. Salah satu strategi yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran fisika adalah pembelajaran kuantum yang dikenal dengan istilah Quantum Learning. Pembelajaran quantum (Quantum learning) memfokuskan pembelajaran pada prinsip dasar, bahwa dalam diri anak ada potensi yang perlu dikenali, dan dimotivasi untuk dikembangkan secara ekseleratif. Untuk mempercepat penguasaan dalam interaksi belajar mengajar, maka perlu didukung oleh partisipasi aktif, fasilitas, dan konteks yang kondusif (Djarudju Rompas, 2006 : 89).
Selanjutnya Rompas (2006: 89–90) menjelaskan pula bahwa arah dan hasil yang diharapkan dalam metode ini adalah bagaimana siswa atau peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilannya melalui suatu proses belajar di antara mereka yang difasilitasi oleh guru secara luwes dan interaksi yang dinamis dengan titik perhatian pada kebutuhan siswa. Untuk mencapai harapan ini, maka perlakuan kepada siswa sebaiknya dinilai secara sama dan sederajat. Hal-hal yang belum terpahami (termasuk oleh guru) boleh jadi justru diperoleh dari siswa (Djarudju Rompas, 2006 : 89 - 90).
Dalam proses interaksi komunikasi, peran guru sangat penting terutama dalam hubungan dengan proses belajar. Berdasarkan kompetensi dasar yang diharapkan dikuasai siswa dalam pembelajaran fisika, maka seorang guru perlu melakukan langkah-langkah operasional yang didukung dengan kemampuan menerapkan strategi dan pendekatan pembelajaran secara tepat.
Pembelajaran quantum memiliki kerangka pembelajaran yang dikenal dengan TANDUR (Tumbuhkan, alami, namai, demonstrasi, ulangi, rayakan) yang mana jika kerangka pembelajaran ini diterapkan dalam suatu proses belajar mengajar akan menciptakan situasi belajar yang kondusif dan terarah yang pada akhirnya akan dihasilkan peserta didik dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik yang berkualitas. Pembelajaran quantum juga dapat diterapkan pada semua jenis materi, salah satu materi fisika yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah yaitu pokok bahasan Kinematika Gerak Lurus.
Sehubungan dengan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang selengkapnya terangkum dalam judul : “Penerapan Pembelajaran Quantum (Quantum Learning) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta.



B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi masalah utama dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta yang diajarkan dengan pembelajaran quantum (Quantum Learning)?
2. Bagaimana hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta yang diajarkan dengan pembelajaran biasa (konvensional)?
3. Apakah hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan pembelajaran quantum (Quantum Learning) lebih baik daripada yang diajar secara konvensional pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta?
4. Apakah ada perbedaan rata-rata gain (selisih post-test dengan pre-test) kelas yang diajar dengan pembelajaran quantum (Quantum Learning) dengan kelas yang diajar secara konvensional pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta yang diajarkan dengan pembelajaran quantum (Quantum Learning).
2. Untuk mendeskripsikan hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta yang diajarkan dengan pembelajaran biasa (konvensional).
3. Untuk mengetahui apakah hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan pembelajaran quantum (Quantum Learning) lebih baik daripada yang diajar secara konvensional pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta.
4. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata gain (selisih post-test dengan pre-test) kelas yang diajar dengan pembelajaran quantum (Quantum Learning) dengan kelas yang diajar secara konvensional pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Tirawuta.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
1. Bahan masukan khususnya bagi guru-guru mata pelajaran fisika dan para guru secara umum mengenai inovasi baru dalam pembelajaran guna meningkatkan keaktivan dan prestasi belajar siswa.
2. Bahan masukan bagi kepala sekolah dalam rangka melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang dituntut dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), di mana salah satu metode dan pendekatan belajar yang dapat digunakan adalah pembelajaran quantum (Quantum Learning).
3. Diharapkan bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian serupa semoga penelitian ini dapat menjadi salah satu sumber yang berguna.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar dan Mengajar
Pada dasarnya proses belajar mengajar fisika sama seperti proses belajar mengajar pada umumnya. Untuk lebih jelasnya tentang proses belajar dan mengajar ini, berikut akan diuraikan secara terperinci mengenai konsep belajar dan mengajar itu sendiri.
a. Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga lingkungan formal. Kegiatan belajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. Entah malam hari, siang hari, atau pagi hari.
Masalah pengertian belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
James O. Whitataker, merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Selanjutnya. Cronbach berpendapat bahwa belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh James O. Whitataker dan Cronbach, Howard L. Kingskey, mengatakan bahwa belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik (Djamarah, 2002 : 12 - 13).
Selanjutnya Slameto (2003 : 2) mengemukakan bahwa secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut :
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Sementara itu, Sardiman (2006 : 50 - 51) mengemukakan bahwa belajar secara esensial meruapakan proses bermakna, bukan sesuatu yang berlangsung secara mekanis belaka, tidak sekedar rutinisme. Menurut penelitian psikologis, mengungkapkan adanya sejumlah aspek yang khas sifatnya dari yang dikatakan belajar penuh makna. Belajar yang penuh makna itu adalah sebagai berikut :
1) Belajar menurut esensinya memiliki tujuan.
2) Belajar memiliki makna yang penuh,dalam arti siswa/subyek belajar memperhatikan makna tersebut.
3) Dasar proses belajar adalah sesuatu yang bersifat eksplorasi serta menemukan dan bukan merupakan pengulangan rutin.
4) Hasil belajar yang dicapai itu selalu memunculkan pemahaman atau pangertian atau menimbulkan reaksi atau jawaban yang dapat dipahami dan diterima oleh akal.
b. Mengajar
Purwanto (2004 : 149) mengemukakan bahwa pada hakikatnya, antara mengajar dan mendidik itu tidak ada perbedaan yang tegas . keduanya tak dapat dipisah-pisahkan. Siapa yang mengajar, ia juga mendidik, dan siapa yang bisa mendidik, harus juga mengajar.
Masalah mengajar telah menjadi persaoalan para ahli pendidikan sejak dahulu hingga sekarang. Pengertian mengajar mengalami perkembangan, bahkan hingga dewasa ini belum ada definisi yang tepat bagi semua pihak mengenai mengajar itu. Pendapat yang dilontarkan oleh para pendidik ialah untuk mendapatkan jawaban mengenai apakah mengajar itu? Untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut, perlu dikemukakan beberapa teori tentang mengajar. Adapun beberapa teori tentang mengajar yang dikemukakan yaitu sebagai berikut :
- Definisi yang lama : mengajar ialah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita atau usaha mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikut sebagai generasi penerus.
- Definisi dari DeQueliy dan Gazali : mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat.
- Definisi yang modern di negara-negara yang sudah maju : mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Definisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhatikan kepribadian siswa.
Kilpatrik menunjukkan definisi mengajar yang tegas, dengan dasar pemikiran pada gambaran perjuangan hidup umat manusia. Definisi Kipatrik tersebut ialah dengan menggunakan metode “problem solving” anak, siswa dapat mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam hidupnya.
Definisi dari Alvin W. Howard : mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mendapatkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge.”
Definisi dari A. Morisson D.Mc. Intyre : mengajar adalah aktivitas personal yang unik.
Definisi dari John R. Pancella : mengajar dapat dilukiskan sebagai membuat keputusan (decision making) dalam interaksi, dan hasil dari keputusan guru adalah jawaban siswa atau sekelompok siswa, kepada siapa guru berinteraksi.
Definisi dari bagi Mursell : mengajar digambarkan sebagai “mengorganisasikan belajar”, sehingga dengan mengorganisasikan itu, balajar menjadi berarti atau bermakna bagi siswa.
Definisi dari Waini Rasyidin : mengajar yang dipentingkan ialah adanya partisipasi guru dan siswa satu sama lain.
Itulah teori-teori mengajar yang dikaitkan dengan pengertian mengajar yang dapat dikemukakan, sehingga para calon guru atau pembimbing dapat membanding-bandingkan di antara teori itu, kemudian dapat mengambil kesimpulan teori mana yang dapat diambil, dan diterapkan di dalam tugas mengajar atau memberi layanan kepada siswa (Slameto, 2003 : 29 - 35).
B. Pembelajaran Sains (Ilmu Pengetahuan Alam)
Kebudayaan dalam era globalisasi ini harus didukung oleh sistem pendidikan yang menekankan sains dan matematika. Kebudayaan siswa berbakat menyukai sains (IPA), karena merupakan tantangan untuk kemelitan mereka. Siswa berbakat biasanya tertarik terhadap peralatan laboratorium dan pembelajaran sains, senang terlibat dalam diskusi tentang kapal terbang supersonic, energi nuklir, rekayasa biogenetik, penggunaan jantung buatan, dan inplantasi organ hewan dalam tubuh manusia. Melalui diskusi siswa berbakat memahami dan menghargai bagaimana kebijaksanaan nasional dan kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh perkembangan dan penemuan ilmiah (Sisk dalam Munandar, 1987).
a. Karakteristik Siswa Berbakat Sains
Bagaimana kita dapat menemukenali siswa berbakat sains? Beberapa peneliti berpendapat bahwa bakat sains tidak merupakan trait tersendiri tetapi merupakan aspek dari intelegensi yang tinggi yang muncul karena perangsangan dari lingkungan dan kesempatan yang tersedia untuk berkembang. Peneliti lain percaya bahwa bakat sains ada, tetapi mereka menekankan komponen-komponen yang berbeda. Komponen itu meliputi kepekaan terhadap masalah kemampuan untuk mengembangkan gagasan baru, dan kemampuan untuk menilai (Guilfod dalam Munandar, 1981).
b. Guru sebagai Fasilitator
Selkin dan Birch (1980) mengemukakan empat peran khusus dari guru yang mengajar sains kepada siswa berbakat; sebagai modal, pendidik nilai, pembangkit minat, dan sebagai penilai fungsional. Sebagai metode sains, guru menunjukkan kemelitan dan keterampilannya. Sebagai pendidik nilai, guru mendorong siswa berbakat untuk menjajaki isu-isu yang penting dalam sains, dalam upaya mencari kebenaran. Sebagai pendorong minat, guru merangsang minat awal dan meluaskannya. Dalam peranannya sebagai penilai fungsional, guru mencatat kecepatan dan kesempurnaan dari pemahaman siswa, gaya belajar mereka dan cara mengajar yang disukai (ceramah, diskusi, atau pusat belajar). Penting pula bagi guru memberi umpan balik kepada siswa berbakat mengenai tingkat kinerja mereka untuk menumbuhkan pertumbuhan mereka sebagai ilmuwan potensial.
Munandar (2004 : 148-149) menemukakan bahwa salah satu peran esensial dari guru sebagai fasilitator dalam sains adalah membina belajar mandiri (independent study). Langkah-langkah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1) Mengakses minat siswa.
2) Memperkenalkan kepada siswa berbagai bidang minat.
3) Melakukan wawancara pribadi terhadap siswa.
4) Mengembangkan rencana tertulis.
5) Menentukan arah dan waktu dengan siswa berbakat.
6) Membantu siswa dalam mencari macam-macam sumber.
7) Melakukan sumbang saran terhadap produk akhir.
8) Memberi bantuan dalam metodologi yang perlu.
9) Membantu siswa berbakat dalam menemukan pendengar untuk presentasi siswa.
10) Menilai hasil studi bersama siswa berbakat dan pertimbangan bidang baru untuk diteliti.
C. Pembelajaran Quantum Learning
a. Asas Utama Quantum Learning
Quantum Learning mengacu konsep yaitu : “Bawalah Dunia Mereka ke dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Inilah asas utama yang menjadi alasan dasar di balik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Learning. Segala hal yang dilakukan dalam Quantum Learning berorieontasi pada setiap interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional yang dibangun di atas prinsip, Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.
b. Prinsip-prinsip Quantum Learning
Quantum Learning juga memiliki lima prinsip, atau kebenaran tetap. Serupa dengan Asas Utama, Bawalah Dunia Mereka ke dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka, prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek Quantum Learning. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
1) Segalanya Berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh Anda, dari kertas yang Anda bagikan hingga rancangan pelajaran Anda; semuanya mengirimkan pesan tentang belajar.
2) Segalanya Bertujuan
Semua yang terjadi dalam penggubahan anda mempunyai tujuan semuanya.
3) Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggeraKkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.

4) Akui Setiap Usaha
Belajar mengandung resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
5) Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan
Perayaan adalah sarapan pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

c. Quantum Learning
Quantum Learning hampir sama dengan sebuah simfoni. Jika anda menonton sebuah simfoni, ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman musik anda. Kita dapat membagi unsur-unsur tersebut menjadi dua kategori : konteks dan isi (context and content).
Konteks adalah latar untuk pengalaman anda. Konteks merupakan keakraban ruang orkestra itu sendiri (lingkungan), semangat konduktor dan para pemain musik (suasana), keseimbangan instrumen dan musisi dalam bekerjasama (landasan), dan interprestasi sang maestro terhadap lembaran musik (rancangan). Unsur-unsur ini berpadu dan kemudian, menciptakan pengalaman bermusik yang menyeluruh.
Bagian lain, isi berbeda namun sama pentingnya dengan konteks. Anggaplah lembaran musik itu sendiri sebagai isi , not- not nyata pada sebuah halaman. Salah satu unsur isi adalah bagaimana tiap frase musik dimainkan (panyajian), isi juga meniliki fasilitasi ahli sang maestro terhadap orkestra, memanfaatkan bakat setiap pemain musik dan potensi setiap instrumen. Jadi pada bagian isi inianda akan menemukan keterampilan penyampaian untuk kurikulum apapun, di samping strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggungjawab atas apa yang mereka pelajari, meliputi :
- Penyajian yang prima.
- Fasilitas yang luwes.
- Keterampilan belajar untuk belajar.
- Keterampilan hidup.
Quantum Learning memodelkan filosofi pengajaran dan strateginya dengan “maestro pada margin, berdasarkan kerangka rancangan belajar Quantum learning yang dikenal sebagai tandur. Berikut ini tinjauan sekilas mengenai tandur dan maknanya.
1. Tumbuhkan
Tumbuhkan minat dengan memuaskan “apakah manfaatnya bagiku“, dan manfaatkan kehidupan pelajar.
2. Alami
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
3. Namai
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi; sebuah “masukan”.
4. Demonstrasikan
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu“.
5. Ulangi
Tunjukkan pada pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”.
6. Rayakan
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan memperoleh keterampilan dan ilmu pengetahuan.
(Deporter et. Al., 2005 : 6 - 10).
Quantum Learning berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgeria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai “suggestology“ atau “suggestopedia“. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberikan kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pelajaran sugestif.
Istilah yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology adalah ”pemercepatan belajar“ (accelereted learning). Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai “memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan“. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai persamaan : hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerjasama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.
Quantum Learning mencangkup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dari prilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif yang merupakan faktor penting untuk merupakan fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar yang terbaik dari setiap orang, dan menciptakan ”pegangan” dari saat-saat keberhasilan yang meyakinkan
d. Manfaat Quantum learning
Metode Quantum learning ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi guru dan pelajar, yang meliputi :
- Sikap positif.
- Motivasi.
- Keterampilan belajar seumur hidup.
- Kepercayaan diri.
- Sukses.
(DePorter & Harnecki, 2003 : 13 - 14).
D. Pembelajaran Aktif, Efektif, dan Menyenagkan
Dalam mengelola kelas, peran guru sangat penting. Oleh karena itulah hanya guru profesional sajalah yang dapat mengantar pembelajaran menjadi lebih menarik, dan menyenangkan.
Berbicara tentang pembelajaran, maka tidak akan lepas dengan pengalaman belajar apa yang mesti diberikan kepada peserta didik agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup maupun untuk meningkat kualitas dirinya sehingga mampu menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat (life long education). Dalam hal ini ada empat pilar pendidikan yang direncanakan UNESCO yaitu “learning to know, learning to do, learning to be and learning to live together” merupaka hal yang harus menjiwai program-program belajar mengajar di sekolah.
Atas dasar prisip-prinsip tersebut, maka pembelajaran di sekolah hendaknya mengaktifkan peserta didik tidak hanya secara mental sehingga mampu menjadi warga negara kritis, kreatif, dan partisipasif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik sudah lama diperkenalkan di Indonesia, tetapi penyebarannya belum merata sehingga hal ini sering menimbulkan salah pengertian dan keliru dalam penerapannya.
Menurut Masdjudi dan S. Ballen, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran aktif, yaitu :
1. Mengerti tujuan dan fungsi belajar.
2. Mengenal anak sebagai individu.
3. Memanfaatkan organisasi kelas.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah.
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
7. Menerima umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar.
8. Membedakan antara aktif dan mental. (Supriono, 2001 : 21).
Berpikir kritis merupakan sebuah pohon yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi dan pendapat orang lain (Johnson, 2006 : 183).
E. Teori Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah pengajaran secara klasikal tanpa membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil di mana siswa belajar tanpa ada ketergantungan dalam tugas dan tujuan pembelajaran. Pembelajaran konvensional menuntut apa yang sudah menjadi kebiasaan. Pembelajaran secara konvensional diartikan melakukan tugas dengan mendasarkan tradisi atau apa yang telah dilaksanakan oleh para guru atau pendidikan dahulu tanpa ada usaha untuk memperbaiki dengan kreasi yang ada padanya (Baharuddin, 2005 : 7).
Adapun pelaksanaan metode konvensional didominasi oleh metode ceramah, yakni guru menjelaskan sementara siswa memperhatikan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Setiap selesai satu unit pelajaran, siswa diberi tes formatif untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diberikan secara keseluruhan kemudian langsung pindah ke materi selanjutnya tanpa ada kegiatan perbaikan bagi siswa yang memperoleh nilai rendah.
F. Definisi Operasional Variabel
Agar diperoleh pengertian yang jelas untuk setiap variabel yang akan diteliti, maka dikemukakan beberapa definisi operasional sebagai berikut :
a. Hasil belajar fisika siswa adalah skor yang diperoleh pada pokok bahasan “kinematika gerak lurus” yang diperoleh melalui tes tertulis yang dibuat oleh peneliti pada kelas yang bersangkutan.
b. Pembelajaran kuantum (Quantum Learning) didefinisikan juga sebagai upaya pemercepatan belajar yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan berdasarkan kerangka atau tandur Quantum Learning yang terdiri dari tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan.
c. Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang dilaksanakan berdasarkan kebiasaan di mana peran guru sangat dominan dalam proses belajar mengajar dan siswa lebih bersifat pasif, karena segala kegiatan pembelajaran berpusat pada guru yang memberikan pembelajaran pengetahuan deklaratif dan prosedural. (tekno-pen.blogspot.com)